APPBI Proyeksi Pertumbuhan Ritel 2026 Maksimal 5 Persen akibat Low Season Panjang
AKTIVITAS PENGUNJUNG di Surabaya Plaza, 19 Februari 2026. Pusat perbelanjaan bersiap menyambut momen belanja Ramadan.-Boy Slamet-
JAKARTA, HARIAN DISWAY – Kinerja industri ritel di tanah air sepanjang tahun 2026 bergerak dinamis. Meski tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan atau mal cenderung stabil, angka penjualan ritel menghadapi tekanan yang tak ringan, Senin 26 Oktober 2026.
Ketua Umum DPP Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengungkapkan bahwa saat ini fungsi mal di Indonesia telah bergeser. Mal bukan lagi sekadar tempat transaksi jual-beli, melainkan telah bertransformasi menjadi sarana berkumpul warga.
"Kondisi ini memperkuat kenyataan bahwa fungsi utama pusat perbelanjaan bukan lagi sekadar tempat belanja, melainkan lebih kepada social connection hub," ujar Alphonzus, Senin.
Karakteristik masyarakat Indonesia yang senang bersosialisasi dan berkumpul membuat tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan relatif stabil dalam segala kondisi dan situasi. Namun, performa kunjungan yang kuat ini tak serta-merta berbanding lurus dengan pertumbuhan nilai penjualan sepanjang tahun.
BACA JUGA:Long Weekend Mei 2026 Bisa Dongkrak Kunjungan Mal, APPBI: Transaksi Belum Tentu Ikut Naik
Alphonzus menjelaskan, industri ritel sempat mencatatkan kinerja cukup baik pada triwulan I-2026. Hal tersebut ditopang oleh rentetan momen krusial yang menjadi peak season (puncak penjualan) utama di Indonesia, mulai dari libur Tahun Baru, kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), Imlek, pembagian Tunjangan Hari Raya (THR), hingga momentum Ramadan dan Idulfitri.
Namun, tantangan berat mulai menghadang saat memasuki triwulan II dan III. Momen Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal di triwulan pertama menyebabkan periode low season (sepi penjualan) berlangsung relatif lebih panjang dan mendalam.
"Low season yang panjang ini kian tertekan akibat kombinasi dampak global dan sejumlah isu serta kondisi ekonomi dalam negeri," jelasnya.
Dari sisi global, gejolak pasar finansial memengaruhi nilai tukar mata uang asing, pergerakan indeks saham, harga emas, hingga aset kripto seperti Bitcoin. Dinamika ini berdampak langsung pada pola dan menahan selera belanja masyarakat kelas menengah ke atas.
BACA JUGA:Asosiasi Mal Targetkan Transaksi Ritel Rp38 Triliun di Tengah Tekanan Daya Beli
Sementara dari dalam negeri, tekanan datang bertubi-tubi. Kenaikan biaya energi, lonjakan tarif logistik, tingginya suku bunga pinjaman, hingga efisiensi anggaran pemerintah kian menggerus daya beli masyarakat. Terutama kelompok menengah ke bawah yang daya belinya memang sudah tertekan sejak beberapa tahun terakhir.
Memasuki triwulan IV-2026, para pelaku usaha ritel kini menaruh harapan besar. Periode akhir tahun ini menjadi kesempatan terakhir untuk menggenjot penjualan demi menjaga performa tahunan secara keseluruhan.
Kehadiran momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) diharapkan mampu menjadi peak season kedua bagi industri ritel. Kendati demikian, Alphonzus mengingatkan adanya bayang-bayang tantangan baru di triwulan pamungkas ini. Yakni potensi kenaikan harga jual produk akibat membengkaknya biaya produksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: