LCD Dunia
ILUSTRASI LCD Dunia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Dalam delapan kesepahaman yang diumumkan kedua negara, Trump dan Xi sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan tidak boleh ada negara atau institusi yang mengenakan pungutan terhadap jalur perairan internasional. Xi juga berbicara mengenai hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok yang memiliki stabilitas strategis, dengan persaingan yang tetap terkendali. Pernyataan dari Washington dan Beijing sama-sama mencatat kesepahaman tersebut.
Bagus di meja diplomasi. Masalahnya, laut tidak membaca komunike.
Pada 1 Oktober Tiongkok meminta perusahaan penyulingannya menghentikan sebagian besar ekspor produk minyak selama Oktober untuk menjaga keamanan pasokan domestik. Pengiriman ke Hongkong dan Makau dikecualikan. Langkah itu memperketat pasokan diesel, bensin, dan bahan bakar jet di pasar Asia.
G-7 mengambil jalan yang berbeda. Pada 2 Oktober mereka sepakat melepas 100 juta barel diesel, minyak mentah, dan cadangan energi melalui mekanisme IEA selama empat bulan. Sebagian pelepasan diesel bahkan ditempatkan pada tahap awal.
Tiongkok menyimpan. G-7 membuka gudang. Pilihan berbeda. Tujuannya sama. Menyelamatkan diri. Semua seperti sibuk menyelamatkan handphone masing-masing. Padahal, jaringannya sama.
Kerusakan Tidak Pernah Berhenti di Satu Bagian
Ini yang sering hilang ketika kita membaca perang. Kita melihat kapal sebagai kapal. Pesawat sebagai pesawat. Minyak sebagai minyak. Padahal, perang modern bekerja pada sistem. Tidak semua sasaran harus dihancurkan. Kadang cukup mengganggu simpul yang penting.
Kokpit adalah simpul kritis pesawat. Hormuz adalah simpul kritis energi. Pelabuhan adalah simpul logistik. Listrik adalah simpul industri. Satelit dan kabel data adalah simpul komunikasi. Ganggu salah satunya dan efeknya bergerak ke bagian lain.
Insiden Flydubai, misalnya, tidak berhenti sebagai pertarungan dua orang di kokpit. Flydubai menghentikan sementara penerbangan ke Israel. Perhatian terhadap pemeriksaan pilot meningkat. Industri penerbangan yang baru mencoba pulih dari ketidakstabilan regional kembali harus menghitung risiko keamanan.
Hormuz juga begitu. Satu tanker terkena proyektil tidak otomatis membuat ekonomi dunia berhenti. Namun, perusahaan pelayaran menghitung ulang rute. Asuransi menghitung risiko. Pedagang menghitung stok. Pemerintah menghitung cadangan. Tiongkok menahan ekspor. G-7 membuka persediaan.
Dalam strategi, ada istilah deterrence. Intinya sederhana. Meyakinkan pihak lain bahwa biaya menyerang akan lebih mahal daripada keuntungan yang diperoleh.
Ada juga de-escalation. Memberikan jalan agar lawan tidak terus menaiki tangga konflik sampai semua orang akhirnya lupa bagaimana cara turun.
Masalah dunia sekarang, tangganya cukup ramai. Semua naik sambil membawa kepentingan masing-masing. Cadangan strategis kemudian menjadi seperti alat pemadam kebakaran. Sangat berguna saat api muncul. Tetapi, kalau alat pemadam harus dipakai terus, pertanyaannya bukan lagi berapa tabung yang tersisa.
Kita mulai bertanya siapa yang terus bermain korek api. Kerusakan sistemik memang tidak selalu datang seperti ledakan.
Kadang layar masih hidup. Baterai masih 40 persen. WhatsApp masih terbuka. Hanya sentuhannya mulai lambat. Kita tekan sekali. Tidak bergerak. Tekan lagi. Baru jalan. Lalu, kita berkata, ”masih bisa dipakai.” Padahal, masalahnya sudah mulai merembet.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: