Pertarungan Dinasti dan Generasi Muda
ILUSTRASI Pertarungan Dinasti dan Generasi Muda.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Dalam proyek hegemoni sejarah nasional, bagian yang menguntungkan penguasa akan diperbesar, ditulis dengan tinta emas, dan diwajibkan untuk dihafal. Tokoh-tokoh tertentu diangkat menjadi pahlawan tanpa cacat. Di sisi lain, bagian yang kelam, penuh kritik, atau menggugat legitimasi penguasa akan dikubur, dikaburkan, bahkan dihapus dari kurikulum.
Generasi muda adalah pemilik masa depan. Jika sejak dini mereka dipasok oleh narasi bahwa struktur kekuasaan sekarang adalah hasil kepahlawanan mutlak di masa lalu, mereka tidak akan pernah mempertanyakan ketimpangan yang terjadi hari ini.
Hegemoni sejarah menciptakan kepatuhan sukarela. Ketika anak muda mengagumi sejarah yang telah direkayasa, mereka akan mendukung kekuasaan status quo tanpa berpikir kritis.
Peran Karya Sastra
Teks sejarah nasional dapat ditandingi dengan karya sastra pada zamannya. Karya sastra adalah sumber yang relatif otonom, sastrawannya tidak mudah diintervensi dinasti penguasa. Jika para tokoh, peran, dan berbagai peristiwa terkait gerakan PKI tahun 1965 tak putus diperdebatkan, kita dapat melihat jejak sejarah melalui karya sastra.
Buku Prahara Budaya: Kilas-Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk. (1985) serta Katastrofi Mendunia (2004) oleh Taufiq Ismail dan D.S. Moeljanto meyakinkan masyarakat mengenai realitas masa lalu. Melalui kapasitas sebagai sastrawan sekaligus saksi sejarah, keduanya menyuguhkan bukti konkret eksistensi PKI beserta seluruh pergerakannya.
Dalam karya-karya tersebut, terangkum dokumen otentik surat-surat, puisi, pemberitaan, artikel, tajuk rencana, hingga gambar karikatur yang pernah dipublikasikan oleh media massa berpaham komunis sebelum peristiwa tahun 1966.
Realitas mengenai keberadaan dan dinamika PKI menggerakkan Umar Kayam untuk menelurkan cerpen Sri Sumarah, Bawuk, dan Musim Gugur Kembali di Connecticut (1975), termasuk novel Para Priyayi (1992) serta Jalan Menikung (2000). Satyagraha Hoerip pun mengangkat topik serupa lewat cerita pendek Pada Titik Kulminasi (1966).
Langkah kreatif diikuti Ahmad Tohari melalui novelnya, Kubah (1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Jantera Bianglala (1986), serta Lintang Kemukus Dini Hari (1988).
Sementara itu, Prof Soekemi menulis buku Sang Guru: Catatan Biografis (2007), khusunya subbab Bercak-bercak Darah Madiun Affairs yang memaparkan kesaksian langsungnya terhadap aktivitas keji PKI di wilayah Madiun dan sekitarnya sebelum 1966.
Karya sastra bukan hanya bacaan biasa, melainkan dapat diposisikan sebagai dokumen sejarah alternatif sekaligus instrumen korektif apabila buku-buku sejarah formal mengalami penyelewengan.
Era Digital
Perkembangan teknologi digital menjadikan proyek hegemoni sejarah kontemporer memiliki lawan tanding yang lain. Kurikulum sekolah mulai retak oleh derasnya arus informasi.
Internet, siniar (podcast), dokumen digital, hingga ruang diskusi alternatif di media sosial memberikan ruang bagi generasi muda untuk menemukan ”sejarah tandingan” (counter history).
Tantangan terbesar generasi muda hari ini adalah memilah mana fakta sejarah dan mana yang bohong. Di sinilah pentingnya transformasi peran sekolah. Kelas sejarah seharusnya tidak lagi menjadi ruang mendikte ingatan, tetapi laboratorium untuk menguji pemikiran kritis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: