Cewek Bunuh Cowok di Toko Material di Menganti, Gresik: Pelaku Pegang Kendali

Cewek Bunuh Cowok di Toko Material di Menganti, Gresik: Pelaku Pegang Kendali

ILUSTRASI Cewek Bunuh Cowok di Toko Material di Menganti, Gresik: Pelaku Pegang Kendali.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Buku itu tidak sekadar membahas ”perempuan pelaku kekerasan”, tetapi juga penulis melihat agresi perempuan sebagai fenomena tersendiri. Bukan sekadar versi perempuan dari agresi laki-laki. 

Ada pembahasan khusus tentang intimate partner violence by women, termasuk control, personality, typologies, stalking, homicide, serta perbedaan antara inisiasi kekerasan dan self-defence.

Di situ ada dua jenis perempuan pelaku tindak kekerasan terhadap laki-laki pasangan intim. Yakni, self-defence atau dia menyerang karena membela diri. Dan, tindak kekerasan murni, tanpa dipicu kekerasan oleh pasangannyi. 

Buku Female Aggression berisi intimate partner violence (IPV) oleh perempuan. Berangkat dari kritik terhadap anggapan stereotipe bahwa agresi fisik pada dasarnya merupakan karakter khas laki-laki. Milik laki-laki. Sedangkan, perempuan secara alamiah lebih pasif, lembut, dan non-agresif. 

Gavin dan Porter tidak mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki sama dalam semua bentuk kekerasan. Mereka mengajak pembaca melihat bagaimana agresi perempuan muncul? Apa bentuknya? Apa faktor pendorongnya? Bagaimana dia berbeda maupun sama dengan agresi laki-laki? 

Buku itu menggunakan perspektif psikologi, ilmu perilaku, biologi, psikologi evolusioner, dan kriminologi. 

Diawali pembahasan initiation vs self-defence. Yaitu, apakah perempuan merupakan pihak yang memulai kekerasan atau kekerasannya merupakan respons terhadap kekerasan laki-laki pasangannyi. 

Setelah itu, buku masuk ke topik anger, communication and control, lalu social learning, personality, dan typologies pelaku perempuan. 

Buku tersebut menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi pihak yang melakukan kekerasan dalam relasi intim, bukan hanya korban. Kekerasan itu tidak selalu harus dipahami sebagai pembelaan diri. 

Penulis juga membicarakan kekerasan fisik, psikologis, dan emosional. Kesimpulan bukunya secara eksplisit menyatakan, makin banyak bukti menunjukkan perempuan dapat menjadi pasangan yang abusif secara fisik, psikologis, maupun emosional. 

Bagian berikutnya membahas homicide oleh perempuan, killing for love, perempuan yang membunuh karena ketakutan, dan perempuan yang membunuh demi uang. Ada pula pembahasan khusus tentang perempuan pembunuh berantai dan pasangan yang melakukan pembunuhan bersama. 

Buku itu menyatakan, tidak setiap perempuan yang marah, cemburu, posesif, atau melakukan tindakan kekerasan otomatis punya personality controlling. Artinya, pelaku perempuan perlu dipahami sebagai kelompok yang heterogen.

Perempuan tertentu dapat menggunakan kemarahan, tekanan psikologis, stalking, kekerasan fisik, atau bentuk agresi lain untuk mempertahankan relasi, merespons ancaman terhadap relasi, atau menghadapi perasaan kehilangan kendali.

Pada kasus di Gresik, pelaku sudah merencanakan. Juga, pegang kendali penuh atas situasi pembunuhan.

Dikaitkan dengan teori Gavin dan Porter, tersangka Ira yang terluka hati akibat diputus hubungan berubah dari konflik emosional menjadi tindakan terencana untuk menyakiti korban. Dia membeli pisau, mengatur pertemuan dengan korban, pertemuan intim yang hanya mereka berdua di kamar, lalu membunuh saat korban tidur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: