Indonesia Menang, Madrasah Menang
ILUSTRASI Indonesia Menang, Madrasah Menang.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
KEMENANGAN tim sepak bola Indonesia dalam final FIFA ASEAN Cup 2026, Senin malam, 5 Oktober 2026 telah menghadirkan kebahagiaan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. Bendera Merah Putih berkibar, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan jutaan masyarakat merasakan kebanggaan yang sama.
Mereka tumpah ruang memenuhi jalan-jalan protokol, alun-alun, dan RTH berbagai pusat kota, wilayah bahkan perumahan dan pondok-pondok pesantren serta pusat kegiatan warga lainnya, di mana televisi raksasa atau layar besar proyektor dipajang manyatukan semua pandangan dalam satu titik yang sama, siaran langsung pertandingan sepak bola.
Pada akhirnya, olahraga permainan paling diminati sejagat itu bukan hanya tentang sebelas pemain di lapangan. Ia menjadi simbol bahwa ketika talenta, disiplin, kerja keras, strategi, dan kebersamaan dipadukan, Indonesia mampu menunjukkan prestasinya di hadapan dunia.
Namun, semangat itu jangan berhenti setelah peluit panjang berbunyi. Kegembiraan atas prestasi sepak bola Indonesia seharusnya menjadi energi bagi bidang lain, termasuk pendidikan. Sebab, jika lapangan sepak bola memiliki para pejuangnya, ruang kelas juga memiliki pejuangnya. Mereka adalah guru dan siswa yang setiap hari berusaha meningkatkan kualitas diri.
BACA JUGA:Kemenag Batasi Gawai di Madrasah dan Pesantren, Orang Tua Diminta Batasi Maksimal 2 Jam di Rumah
BACA JUGA:Renovasi Sekolah Dipercepat, Madrasah Tetap di Jalur Lama
Di sinilah kita dapat mengatakan: Indonesia Menang, Madrasah Menang. Bukan dalam arti Madrasah harus selalu menjadi juara dalam setiap perlombaan. Lebih dari itu, Madrasah harus mampu mengambil bagian dalam membangun prestasi dan masa depan Indonesia.
Dari Madrasah untuk Indonesia
Kita sebenarnya sudah memiliki banyak contoh bahwa madrasah bukan institusi pendidikan kelas dua. Siswa madrasah telah menunjukkan kemampuan di berbagai bidang. Ada yang menjadi juara olimpiade sains, kompetisi matematika, robotik, debat bahasa, karya ilmiah, hingga berbagai cabang olahraga.
Ada pula siswa madrasah yang berhasil menghafalkan Al-Qur’an sekaligus diterima di perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi terbaik.
Di bidang sains, misalnya, tidak sedikit siswa madrasah yang mampu bersaing dalam kompetisi tingkat nasional. Mereka belajar fisika, kimia, biologi, matematika, dan teknologi tanpa meninggalkan pembelajaran agama.
Di bidang Al-Qur’an, madrasah juga melahirkan para penghafal Al-Qur’an yang tidak berhenti pada kemampuan menghafal. Mereka didorong untuk memahami, mengamalkan, dan menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai karakter dalam kehidupan.
Ada pula siswa madrasah yang berprestasi dalam olahraga. Mereka membuktikan bahwa pendidikan agama tidak menghalangi seseorang untuk memiliki tubuh yang sehat, disiplin, kompetitif, dan berprestasi.
Contoh-contoh tersebut memperlihatkan bahwa identitas madrasah sesungguhnya sangat kaya. Madrasah tidak harus memilih antara agama dan prestasi. Keduanya dapat berjalan bersama. Dan, itulah salah satu kekuatan madrasah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: