Indonesia Menang, Madrasah Menang
ILUSTRASI Indonesia Menang, Madrasah Menang.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Belajar dari Sepak Bola
Tim sepak bola yang baik tidak dibangun dalam satu malam. Ada proses seleksi, latihan, evaluasi, strategi, pembinaan fisik, penguatan mental, dan kerja sama tim. Begitu pula madrasah.
Prestasi seorang siswa bukan hanya hasil dari kemampuan siswa tersebut. Di belakangnya ada guru yang membimbing, orang tua yang mendukung, kepala madrasah yang memberikan arah, serta lingkungan pendidikan yang memungkinkan potensi itu berkembang.
Karena itu, madrasah perlu membangun budaya ”berlatih untuk berprestasi”. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru perlu menjadi pelatih yang membantu siswa menemukan potensinya. Siswa tidak cukup hanya mengejar nilai rapor. Mereka perlu diberi kesempatan untuk mencoba, gagal, memperbaiki diri, kemudian mencoba kembali.
Madrasah tidak cukup hanya memiliki program yang banyak. Yang lebih penting adalah memastikan setiap program memberikan dampak nyata bagi perkembangan siswa. Di sinilah semangat sepak bola bisa menjadi inspirasi.
Seorang pemain tidak akan berkembang hanya karena sering dipuji sebagai pemain berbakat. Ia berkembang karena terus berlatih. Demikian pula para siswa, mereka tidak akan menjadi unggul hanya karena disebut sebagai anak pintar dan cerdas. Ia membutuhkan pembinaan yang konsisten.
Madrasah Harus Berani Memiliki Target
Sudah saatnya madrasah tidak hanya bertanya, ”apa program kita tahun ini?”, tetapi juga bertanya, ”prestasi apa yang ingin kita capai?”.
Berapa siswa yang akan diterima di perguruan tinggi negeri? Berapa siswa yang mampu menghafal Al-Qur’an sesuai target? Berapa medali yang ingin diraih dalam kompetisi akademik dan nonakademik?
Berapa karya inovasi siswa yang akan dihasilkan? Berapa siswa yang mampu menguasai bahasa asing? Berapa banyak lulusan yang nantinya menjadi profesional dan memberikan manfaat bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan tentang mengejar angka semata. Ia adalah cara untuk memastikan bahwa madrasah memiliki arah.
Sebuah tim sepak bola masuk pertandingan dengan target yang jelas. Madrasah pun perlu memiliki target yang jelas dalam pengembangan peserta didiknya. Namun, target itu harus tetap sehat. Anak tidak boleh diperlakukan sebagai mesin prestasi.
Pendidikan tetap harus memperhatikan karakter, kesehatan, kebahagiaan, spiritualitas, dan perkembangan mereka secara utuh. Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan piala.
Prestasi yang Lebih Luas
Ukuran keberhasilan madrasah sesungguhnya jauh lebih luas daripada jumlah trofi di lemari. Ketika seorang anak yang semula tidak percaya diri kemudian berani tampil di depan umum, itu prestasi. Ketika seorang siswa dari keluarga sederhana berhasil masuk perguruan tinggi melalui beasiswa, itu prestasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: