F1 Bahrain Cabang Sepang
--
HARIAN DISWAY – Sepang emang nendang. Ceritanya seperti langganan TV berbayar alias banyak drama. Konon, dramanya serial. Ceritanya dari soal transportasi sampai hospitality.
Pengalaman nonton F1 Sepang yang terakhir ini seperti istilah mobil Formula 1 saat ini: hybrid. Maksudnya, campuran naik kendaraan plus jalan kaki. Bahkan, ada yang terpaksa ngojek. Mas Hendro dari Bogor, mahasiswa Universitas Mainbalap, misalnya, bercerita bahwa selepas balapan ia memilih jalan kaki menuju Mitsui Outlet Park, tempat rombongan Otak-Otak EO berkumpul. Ia menempuh jarak 8 km, kurang lebih satu jam.
Namun, ia merasa beruntung karena Pak Amigo, "mahasiwa UMBL", memilih naik shuttle yang antreannya hampir 200 meter. Ia satu jam lebih lambat datang dibandingkan yang jalan kaki.
Drama pun terjadi saat antre makanan dan minuman. Kurniawan Tjipto atau Wawan Mie Bola Mas beropini, antrean panjang bisa juga terjadi karena bule-bule kurang cocok dengan makanan tradisional. Sehingga, mereka memilih yang sesuai seleranya.
Drama pun terjadi saat start balapan. Hujan benar-benar turun sangat deras. Padahal, Jumat saat babak latihan dan Sabtu saat babak kualifikasi, matahari sedang semangat-semangatnya bersinar. Terik dan membuat kerongkongan harus sering disiram. Hot no public, alias panase gak umum.

--
Kembali ke cerita soal start balapan, tertunda bukan saja karena hujan. Selepas hujan, masih banyak air yang betah di trek, enggan pergi. Sehingga, panitia mengerahkan "Harry Potter" dan teman-temannya membawa sapu lidi untuk menyapu genangan air. Mereka dibantu mobil penyapu air. Pikir saya, kalau mobil F1 takut tergelincir, kenapa tidak memilih ban berbahan kanebo? Eaaa.
Saya sendiri nonton di Hill Stand. Alasannya, saya sudah nonton F1 Sepang sejak 2001 sampai dengan 2017, hanya absen satu kali. Berbagai tempat sudah saya rasakan, termasuk punya "kartu sakti" all access, alias kartu wartawan foto.
Nah, kali ini saya memilih Hill Stand, jujur karena in this economy, hahahaha. Harga tiket F1 Bahrain cabang Sepang emang nendangggg. Hill Stand saja Rp 5 juta untuk tiga hari. Kalau mau "pakai atap", K1 yang bersebelahan harganya Rp 12 juta.
Seru juga nonton di Hill Stand. Banyak dramanya, walau ada bar dengan DJ. Lumayan bisa ikut ajep-ajep. Namun, drama sebenarnya terjadi setelah hujan turun. Hill-nya jadi stand ala-ala curam, banyak penonton yang terperosok.

--
Akhirnya, saya tidak saja mendengar cerita soal drama, tetapi juga menjadi pelaku utama dramanya. Harusnya balapan start jam 15.00 WTS (Waktu Sepang). Saya berjanji jam 16.00 harus meninggalkan sirkuit menuju bandara karena pesawat saya berangkat pukul 22.00 WIB. Dengan berat hati, saya melangkah lunglai ke shuttle bus menuju KLIA 2. Saat bus hendak melaju, ada pesan WhatsApp dari tim Otak-Otak yang mengawal rombongan, menginformasikan pesawat delay 1,5 jam.
Akhirnya, jam 16.30 balapan dimulai. Saya dan rombongan penonton dari Singapura yang takut macet dan ketinggalan pesawat nonton dari HP. Drama pun tuntas ketika saya selesai salat di surau bandara. Kembali masuk informasi bahwa pesawat saya diberi bonus delay dan berangkat jam 03.30 pagi.
Drama-drama tadi sebenarnya tertutup oleh serunya balapan. Terlebih Max Verstappen, yang merajai beberapa tahun lalu, baru sekali menang tahun ini. Penonton pun puas bisa menyaksikan balapan F1 di habitat sesungguhnya. Penantian sembilan tahun sejak Sepang "pamit" dari agenda F1.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: