Refleksi Hari Kesehatan Mental Sedunia: Kita yang Lupa Mendengar
ILUSTRASI Refleksi Hari Kesehatan Mental Sedunia: Kita yang Lupa Mendengar.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Justru kemampuan mendengarkan juga berarti mengetahui batas. Orang di sekitar tidak perlu mengambil peran sebagai terapis. Yang dibutuhkan adalah kepekaan untuk mengenali ketika seseorang memerlukan bantuan lebih lanjut dan mendukungnya memperoleh layanan yang sesuai.
Kesehatan mental memang membutuhkan sistem pelayanan yang kuat. Akses terhadap tenaga profesional perlu diperluas. Literasi masyarakat harus terus ditingkatkan. Stigma juga masih harus dikurangi. Namun, upaya itu akan lebih bermakna apabila disertai perubahan pada kebiasaan komunikasi sehari-hari.
Kita telah mempunyai begitu banyak ruang untuk berbicara. Setiap orang dapat membuat status, komentar, video, atau pendapat kapan saja. Barangkali persoalan masyarakat hari ini bukan kekurangan orang yang ingin berbicara. Kini yang mulai langka justru orang yang bersedia mendengarkan sampai selesai.
Di tengah masyarakat yang kian ramai bersuara dan komunikasi makin luas, kemampuan mendengarkan dapat menjadi bentuk kepedulian yang paling sederhana sekaligus paling manusiawi.
Sebab, kadang-kadang, seseorang tidak meminta kita menyelesaikan seluruh masalahnya. Orang hanya ingin memastikan bahwa ketika akhirnya berani berbicara, ada seseorang yang benar-benar bersedia mendengar. Selamat menasihati! (*)
*) Andria Saptyasari adalah dosen Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: