Gegar Budaya Anak Rantau: Fenomena Disorientasi pada Mahasiswa Baru

Gegar Budaya Anak Rantau: Fenomena Disorientasi pada Mahasiswa Baru

ILUSTRASI Gegar Budaya Anak Rantau: Fenomena Disorientasi pada Mahasiswa Baru.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Gegar budaya (culture shock) adalah kondisi yang dialami seseorang berupa perasaan bingung, cemas, stres ketika berada dalam lingkungan baru. Fenomena yang tidak hanya terjadi saat pindah ke luar negeri, tetapi juga ketika seseorang berpindah ke kota/wilayah lain, kampus, atau lingkungan kerja yang baru di dalam negeri.

Kondisi disorientasi, kecemasan, atau rasa tidak nyaman dapat dialami anak rantau, dalam hal ini mahasiswa baru. 

Apa pemicunya? Berbagai kebiasaan, norma sosial, nilai-nilai, dan bahasa yang sangat berbeda dari tempat asalnya. Apa solusinya? Penyesuaian diri/lingkungan, adaptasi, atau pembiasaan. 

Adaptasi sangat dibutuhkan dalam memasuki lingkungan kampus dan kebiasaan baru yang sangat berbeda dari masa sekolah menengah sebelumnya. Ada mahasiswa baru yang lebih cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus, ada pula mahasiswa yang lambat.

BACA JUGA:Mahasiswa dan Jebakan Budaya Pasar

BACA JUGA:Budaya Healing dan Performa Digital

Sistem Pembelajaran yang Mandiri

Dosen kerap memberikan kebebasan dalam memilih metode belajar kepada mahasiswa. Artinya, dalam metode belajar itu, mahasiswa memegang kendali penuh untuk mengatur, memilih, dan mengevaluasi proses belajarnya tanpa bergantung sepenuhnya pada instruksi dosen.

Mahasiswa dapat menentukan kapan, di mana, dan seberapa cepat dalam mempelajari materi perkuliahan sesuai dengan gaya belajar masing-masing.

Manajemen sumber belajar juga penting dipahami. Mahasiswa aktif mencari, memilih, dan memilah referensi tambahan (seperti buku digital, jurnal ilmiah, video pembelajaran, atau kursus daring) di luar materi utama dari dosen. 

Lalu, apa peran dosen? Peran dosen adalah sebagai fasilitator. Dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, tetapi bertindak sebagai pembimbing, pengarah, atau narasumber ketika mahasiswa mengalami kendala dalam proses belajar mengajar. 

BACA JUGA:Pendidikan Membahagiakan Berbasis Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

BACA JUGA:Rekayasa Perilaku Manusia lewat Budaya

Bahasa dan Gaya Bicara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: