Menjelajah Lautan Teduh (25): Openship, Etalase Budaya di Dalam Kapal
PELAUT PRANCIS, Gael Roomier, mendapat penjelasan dari Doan Widhiandono tentang berbagai budaya Indonesia dalam open ship di Port Vila, Vanuatu, Sabtu 3 Oktober 2026.-SATGAS TERPADU PORT VISIT 2026-
Kapal perang tidak selalu hanya menjadi tempat untuk melihat persenjataan dan aktivitas prajurit. Dalam Open Ship Satgas Terpadu Port Visit 2026 di Vanuatu dan Fiji, warga setempat juga diajak mengenal kekayaan budaya Indonesia.
KESEMPATAN itu berlangsung di dek 3 KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991, tepatnya di hanggar helikopter. Di dua negara yang telah kami kunjungi, open ship itu berlangsung selama dua hari. Di Port Vila, Vanuatu, kapal bantu rumah sakit itu dibuka pada Jumat-Sabtu, 2-3 Oktober 2026. Sedangkan di Suva, Fiji, kapal menerima kunjungan warga pada Sabtu-Minggu, 10-11 Oktober 2026.
Kapal pun bersiap. Juga bersiap. Di salah satu sudutnya, terdapat tenda kecil yang memajang sejumlah benda khas Indonesia. Ada penutup kepala atau mahkota dari Papua, gantungan kunci bergambar pakaian tradisional dari berbagai daerah, juga Singo Barong Reog Ponorogo dengan ornamen merak yang mencolok di sudut yang lain.
Benda-benda tersebut segera menarik perhatian pengunjung. Mereka tidak hanya melihat dari dekat, tetapi juga mencoba mengenakan beberapa atribut yang tersedia. Singo Barong menjadi salah satu benda yang menarik untuk diamati. Terlebih, ukurannya sangat besar. Tercatat sebagai topeng terbesar di dunia menurut catatan Guinness World Records.
BACA JUGA:Menjelajah Lautan Teduh (24): Enam Jam Bekerja, Seumur Hidup Mengingat
BACA JUGA:Tim PkM Untag Surabaya Kembangkan Digital Heritage Tari Tradisional di Sanggar Mugi Lestari
Kami, dua dosen Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Rizkya Dwijayanti dan Doan Widhiandono, bertugas memandu pengunjung di acara tersebut.
Sebagai pemandu, kami harus menjelaskan benda-benda yang dipamerkan sekaligus mengajak pengunjung berinteraksi. Rizkya cukup aktif melemparkan pertanyaan dan tebak-tebakan ringan. Cara itu membuat suasana lebih santai. Pengunjung tidak sekadar mendengarkan penjelasan, tetapi ikut menebak, bertanya, dan mencoba atribut yang disediakan. Tentu, kuis-kuis ’’dadakan’’ itu berhadiah. Cukup merangsang antusiasme.
Bahasa dan perbedaan latar belakang tentu menjadi bagian dari perjumpaan semacam itu. Karena itu, interaksi sederhana menjadi penting.
Di tenda kecil itu, pengenalan budaya tidak disampaikan melalui presentasi panjang. Penjelasan berlangsung sambil menunjukkan benda, menjawab pertanyaan, atau mengajak pengunjung mencoba langsung. Sesekali, suasana menjadi ramai ketika pengunjung berpose dengan atribut budaya Indonesia.

RIZKYA DWIJAYANTI menjelaskan kepada rombongan pengunjung open ship di Suva, Fiji, Sabtu 10 Oktober 2026.-SATGAS TERPADU PORT VISIT 2026-
Open Ship merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Satgas Terpadu Port Visit 2026 selama berada di negara-negara yang dikunjungi. Melalui kegiatan itu, warga setempat mendapat kesempatan naik ke KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991 dan melihat lebih dekat kapal yang digunakan dalam misi tersebut.
Bagi kami, memandu pengunjung di area budaya menjadi pengalaman tersendiri di luar kegiatan mengajar di kampus. Kami bisa berhadapan langsung dengan warga dari negara yang memiliki latar budaya berbeda. Sekaligus mencari cara agar benda-benda yang dibawa dari Indonesia dapat dipahami dan dinikmati.
Tidak semua pengunjung tentu mengenal Papua atau Reog Ponorogo sebelumnya. Namun, mereka bisa melihat bentuknya, mencoba atributnya, dan bertanya tentang asal-usulnya. Dari situ, percakapan tentang Indonesia berlangsung secara bersahaja. Tetapi berkesan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: