Workshop Transformasi Digital Pendidikan: Remaja di Surabaya Habiskan 9 Jam Per Hari Untuk AI

Workshop Transformasi Digital Pendidikan: Remaja di Surabaya Habiskan 9 Jam Per Hari Untuk AI

Suhadi sebagai perwakilan Kemendiksasmen memaparkan hasil minat baca anak Indonesia tahun 2025 yang masih rendah dalam forum workshop, pada Selasa, 13 Oktober 2026-Rossa Handini-Harian Disway

Penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT di kalangan siswa hingga mahasiswa kini sangat masif, namun penggunaan teknologi ini tanpa disertai proses berpikir dikhawatirkan dapat memperlambat koneksi otak dan menghilangkan nalar kritis. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Rektor III Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Bambang Sigit Widodo, yang membidangi Riset, Inovasi, Pemeringkatan, Publikasi, dan Science Center, membagikan hasil risetnya.

Berdasarkan survei terhadap 299 responden berusia 19 hingga 22 tahun di Surabaya, ditemukan bahwa sekitar 96 persen dari mereka aktif menggunakan ChatGPT. Para mahasiswa ini rata-rata menghabiskan waktu hingga 9,36 jam per hari untuk berinteraksi dengan teknologi tersebut. 

Ia merujuk juga pada penelitian terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengenai tugas menulis, terdapat perbedaan signifikan pada koneksi otak antara pengerjaan tugas yang menggunakan otak secara murni (tanpa alat bantu), menggunakan mesin pencari, maupun menggunakan AI.

BACA JUGA:Kasus Jeffrey Epstein, ’’Makanan Baru’’ Kecerdasan Buatan: Ciptakan Kepalsuan Meyakinkan dalam Hitungan Detik

BACA JUGA:Siapa Sebenarnya Pencipta Kecerdasan Buatan (AI)?

Ketika seseorang mengerjakan tugas murni menggunakan otaknya, koneksi antar-sel otak bergerak lebih aktif, hidup, terkoneksi satu sama lain, dan lebih kompleks. Sebaliknya, pengerjaan tugas yang murni mengandalkan AI menunjukkan koneksi otak yang sangat jarang terhubung. 

"Saya tidak mengatakan otak menjadi rusak karena penggunaan, tetapi koneksi antar sel-selnya lebih kompleks ketika kita memanfaatkan brain, memanfaatkan otak," ujarnya.

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa siswa yang mengerjakan tugas dengan otaknya terlebih dahulu baru kemudian menggunakan AI dapat bekerja dengan lebih cepat dan lancar. Namun, bagi mereka yang menggunakan AI terlebih dahulu baru kemudian menggunakan otaknya, proses kerja justru menjadi jauh lebih lambat.

"Jangan semata-mata dengan teknologi kita berikan langsung kepada siswa kita. Kasihan mereka. Nanti koneksi otaknya lama-lama menjadi slow. Akibatnya, apa? Nalar kritisnya akan hilang. Ketika mesinnya diambil, dia sudah tidak bisa," tambahnya.

BACA JUGA:Ketika Kecerdasan Buatan Menjadi Jalan Pintas Belajar: NTU Beri Nilai Nol untuk Pencontek AI

BACA JUGA:Menyongsong Agentic AI: Peluang dan Tanggung Jawab di Era Baru Kecerdasan Buatan

Oleh karena itu juga dibutuhkan peran orang tua. Hal ini diungkapkan oleh Analis Kebijakan Ahli Madya Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD, Dikdas, dan PNFI), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Suhadi.

Menurutnya, orang tua harus mengarahkan dan mengawasi penggunaan gawai pada anak. Selain itu, orang tua harus betul-betul memahami kondisi dan aktivitas anaknya. 

Hal ini sangat penting terutama jika anak memiliki kamar sendiri, agar orang tua tetap mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa yang dilakukan oleh anak mereka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: