11.707 Warga Pekanbaru Terdampak Kabut Asap Karhutla, 9.816 Kasus ISPA

11.707 Warga Pekanbaru Terdampak Kabut Asap Karhutla, 9.816 Kasus ISPA

Kualitas udara Pekanbaru di tengah kepungan asap-Abdullah Sani/Riau-

PEKANBARU, HARIAN DISWAY – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau berdampak pada kesehatan ribuan warga. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekanbaru mencatat 11.707 kasus gangguan kesehatan hingga 10 Oktober 2026. Mayoritas merupakan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Sampai hari ini sudah 11.707 orang ya total kumulatif kasus," terang Kepala Dinkes Kota Pekanbaru, Hazli Fendriyanto, Rabu, 14 Oktober 2026.

Hazli menjelaskan, angka tersebut merupakan akumulasi kasus yang tercatat sejak 25 Agustus 2026. Data dihimpun dari 21 puskesmas dan 30 rumah sakit di wilayah Pekanbaru.

BACA JUGA:Gus Mus hingga Romo Magnis Desak Karhutla Ditetapkan sebagai Bencana Nasional

BACA JUGA:3 Bulan Karhutla Tak Kunjung Padam, Kinerja Menhut Raja Juli Antoni Dikritik

Dari total kasus tersebut, sebanyak 9.816 merupakan ISPA. Selain itu, tercatat 892 kasus asma, 498 kasus iritasi kulit, dan 328 kasus iritasi mata.

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan yang lebih luas, Dinkes Pekanbaru menggencarkan promosi kesehatan melalui 21 puskesmas.

Petugas kesehatan juga secara masif mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih buruk. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap.

BACA JUGA:2.160 Nakes Dikerahkan untuk Tangani Korban Karhutla di 7 Provinsi

BACA JUGA:UPDATE Karhutla: 639 Hektare Lahan di 6 Provinsi Masih Terbakar

Dinkes Pekanbaru turut membagikan masker gratis kepada masyarakat. Hazli memastikan persediaan masker masih mencukupi dan dapat diperoleh warga di puskesmas terdekat.

Kasus ISPA Nasional Tembus 14 Juta

Dampak ISPA tidak hanya terjadi di Pekanbaru. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang tercantum dalam bahan berita menunjukkan, jumlah kasus ISPA secara nasional mencapai 14.088.948 sepanjang 2026.

Laporan kasus disebut meningkat selama musim kemarau, terutama pada periode Juli hingga September. Paparan kabut asap karhutla menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai di wilayah terdampak.

Kabut asap mengandung partikel halus dan polutan yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan tersebut berisiko memicu atau memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: