Rekor Cadangan Beras
ILUSTRASI Rekor Cadangan Beras.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Untuk menyiasati impitan HET, sebagian produsen memproduksi beras khusus, yakni beras fortifikasi. Beras fortifikasi adalah beras yang diperkaya vitamin dan mineral tertentu. Karena nilai tambah itu, harganya lebih mahal daripada beras medium dan premium.
Beruntung, pasar beras premium yang minim persediaan itu bisa sedikit ditutup Bulog. Bagi Bulog, tipisnya margin tetap bisa ditoleransi sebagai konsekuensi sebagai perusahaan milik negara. Berapa sebenarnya biaya produksi beras premium?
Yang jelas, berdasarkan data Bulog, biaya produksi beras medium tahun 2025 saja diperkirakan mencapai Rp14.782 per kg. HET beras medium Rp13.500 per kg. Biaya produksi beras premium tentu jauh lebih tinggi daripada beras medium.
Selain faktor di atas, penyaluran beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) kurang cepat. Dari Januari hingga Juli 2026, merujuk data Badan Pangan Nasional (Bapanas), setidaknya 1,4 juta ton beras telah dialirkan ke pasar. Baik melalui operasi pasar SPHP maupun bantuan pangan beras.
Kenaikan harga beras ke depan tampaknya masih akan terjadi. Merujuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), saat ini belum memasuki puncak kemarau. Ditambah El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga April 2027, kemarau akan makin kering. Produksi padi pun terancam.
Guna menurunkan harga beras dan menekan inflasi beras, operasi pasar beras SPHP harus makin intensif dilakukan. Sebab, jika harga beras medium bisa terkendali, harga beras premium juga bakal berangsur turun.
Pasalnya, selisih harga yang cukup besar akan menggeser konsumen beras kelas menengah. Permintaan beras premium pun bisa turun yang bakal diikuti dengan penurunan harga.
Selain itu, perlu mengubah mekanisme operasi pasar dengan menggunakan kekuatan integrasi pasar. Bantuan pangan beras tiga bulan, Juli hingga September 2026, juga harus cepat dieksekusi untuk menambah ketersediaan beras di masyarakat yang bakal diikuti dengan penurunan harga beras, termasuk beras premium. (*)
*) Imron Mawardi adalah guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: