Ijazah Gibran di Tangan Politisi
ILUSTRASI Ijazah Gibran di Tangan Politisi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Posisi AHY juga persoalan psikologis bagi Demokrat. AHY bakal menjadi rival berat Gibran dalam pilpres mendatang. Prabowo juga pernah meramal hal tersebut.
Bila Demokrat memilih diam dan menunggu perkembangan situasi dalam menyikapi kasus ijazah Gibran, itu dapat dipahami. Tak ingin kasus tersebut melebar sebagai rivalitas kedua anak presiden itu.
Sejatinya, sikap koalisi pendukung pemerintah –Gerindra, Golkar, Demokrat, PAN, dan PKB– menunggu komando Presiden Prabowo. Tentu Prabowo mengalkulasi untung rugi memakzulkan Gibran.
Tapi, bila sikap Prabowo dilihat dari cermin Gerindra, mereka bakal memilih jalur menghindari pemakzulan. Lewat juru bicaranya, Sugiat Santoso: Gerindra meminta kasus itu dihentikan. Alasannya pragmatis. Yakni, agar tak gaduh yang mengganggu stabilitas politik dan iklim ekonomi.
Sikap koalisi itu memang berbeda bila dibandingkan dengan sikap mereka ketika keluar putusan MK 90 yang meloloskan Gibran sebagai cawapres. Putusan tersebut langsung diproses di hari itu juga. Alasannya, putusan MK sudah final. Gibran pun langsung diumumkan sebagai cawapres.
Saat itu Gibran dengan lantang berteriak: ”Tenang Pak Prabowo, saya sudah ada di sini!”
Sekarang, saat putusan MK memukul balik Gibran, apakah Prabowo berani berteriak: ”Tenang Gibran, saya sudah ada di sini!”
Demokrasi pun bubrah. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: