TEP ITS Sulap Limbah Pertanian menjadi Biochar Bernilai Guna di NTB

TEP ITS Sulap Limbah Pertanian menjadi Biochar Bernilai Guna di NTB

Pelaksanaan bimbingan teknis pengolahan biochar dari limbah pertanian oleh TEP 21 ITS 2026 yang dipimpin oleh Grasianto MSc PhD (paling kanan), Kamis, 15 Oktober 2026-ITS Surabaya-

LOMBOK TIMUR, HARIAN DISWAY - Pengolahan limbah di tengah potensi pertanian masih menjadi tantangan yang dihadapi oleh masyarakat di Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Untuk itu, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sulap limbah pertanian menjadi biochar di kawasan transmigrasi berbasis Teknologi Tepat Guna (TTG), Kamis, 15 Oktober 2026.

Melalui pengembangan biochar, tim yang dipimpin oleh Grasianto MSc PhD itu berupaya mentransformasikan sampah menjadi sesuatu yang bernilai guna. Grasianto menjelaskan bahwa teknologi ini sejalan dengan kondisi masyarakat yang menggantungkan perekonomiannya pada sektor pertanian.

Pusat aktivitas masyarakat pada sektor pertanian itu akhirnya menghasilkan berbagai limbah biomassa seperti tongkol jagung, sekam padi, hingga batang tembakau. Untuk itu, jika tidak terolah dengan baik, limbah akan memicu permasalahan lingkungan hingga menghilangkan peluang ekonomi dari pemanfaatan limbah. 

Dosen Departemen Kimia ITS itu menerangkan, pengolahan bahan organik tersebut nantinya akan melalui proses pirolisis. Biomassa pertanian akan dipanaskan dalam kondisi oksigen yang terbatas. “Hasilnya berupa biochar itu sendiri yang dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah sekaligus alternatif pemanfaatan limbah ke dalam sistem pertanian yang lebih produktif,” paparnya.

BACA JUGA:Bikin Bangga, Enam Ilmuwan ITS Masuk World's Top 2% Scientist 2026

BACA JUGA:Nogogeni ITS Pertahankan Dua Gelar Juara 1 di KMHE 2026


Mesin pembakaran biochar yang digunakan untuk membakar limbah pertanian yang diperkenalkan oleh TEP 21 ITS 2026 kepada masyarakat di Lombok Timur, NTB-ITS Surabaya-

Untuk mengoptimalkan hasil, tim juga melakukan uji coba alat dengan berbagai variasi bahan baku biomassa, durasi, hingga suhu pembakaran. Hasilnya, lanjut Grasianto, menunjukkan bahwa pada variasi bahan baku tongkol jagung dan sekam padi membutuhkan waktu 3-4 jam dengan suhu sekitar 200-250 derajat celcius. 

Namun dalam prosesnya, menurut alumnus doktoral Tohoku University, Jepang ini, timnya menemukan bahwa perlu dilakukan pemantapan proses pirolisis agar suhu pemanasan lebih merata. Langkah tersebut menjadi prioritas guna menjaga kualitas biochar yang dihasilkan bisa lebih konsisten. 

Grasianto juga mengungkapkan bahwa transfer ilmu terkait pengoperasian alat bagi masyarakat setempat masih berlangsung hingga akhirnya masyarakat mampu mengolah limbah secara mandiri.

“Selain teknologinya, kami berikan pelatihan, pendampingan, hingga penyediaan modul pengolahannya yang digunakan untuk implementasi dan replikasi kegiatan,” tuturnya. 

BACA JUGA:Roadshow DSC di ITS Surabaya, Dorong Generasi Muda Ciptakan Solusi Berdampak dan Berani Jadi Founder

BACA JUGA:Alumni ITS Gelar Jumat Berkah Ke-16 Bagikan Makanan Gratis untuk Mahasiswa dan Masyarakat di Surabaya


Gambaran tumpukan limbah sekam padi di salah satu pekarangan warga di Kabupaten Lombok Timur, NTB yang siap diolah menjadi biochar-ITS Surabaya-

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: