Ketika Asap Melintasi Negara, Bensin Tak Sampai ke Pompa
Efatha Filomeno Borromeu Duarte adalah dosen ilmu politik di Universitas Udayana, Bali.--
OKTOBER 2026 datang membawa tagihan yang tidak sedikit. Di Timur Tengah, perang membuat perdagangan minyak makin mahal. Di Malaysia, kabut asap mengganggu pernapasan dan mulai memasuki ruang diplomasi. Di Bali, masyarakat mengantre bensin. Sementara di Amerika Serikat, Donald Trump masih harus berhitung dengan harga energi menjelang pemilu paruh waktu.
Sibuk sekali dunia ini. Yang satu menghadapi rudal. Yang lain menghadapi asap. Sebagian lagi menghadapi jarum penunjuk bensin yang kian mendekati huruf E.
Tiga persoalan berbeda. Tidak lahir dari penyebab yang sama. Namun, ada sesuatu yang menarik ketika rangkaian peristiwa tersebut dibaca melalui kacamata politik, hubungan internasional, dan politik hukum.
Negara ternyata tidak cukup hanya memiliki sumber daya, kekuatan militer, anggaran besar, atau seperangkat undang-undang. Negara juga harus mampu menjaga agar kehidupan masyarakat tetap berjalan ketika keadaan tidak lagi sesuai perhitungan.
BACA JUGA:11.707 Warga Pekanbaru Terdampak Kabut Asap Karhutla, 9.816 Kasus ISPA
Di sinilah persoalannya. Perang mempunyai harga. Kerusakan lingkungan mempunyai harga. Gangguan distribusi juga mempunyai harga. Dan sering kali, yang paling mahal justru sesuatu yang jarang masuk laporan keuangan. Ketenangan masyarakat.
Tulisan ini tentu bukan dimaksudkan menambah tekanan kepada pihak-pihak yang sedang bekerja menghadapi keadaan sulit. Kita justru perlu melihat persoalannya secara utuh. Sebab, tahun ini sudah cukup melelahkan. Jangan sampai kita ikut memperumitnya.
Ketika Asap Menguji Diplomasi Bertetangga
Malaysia belakangan ini kedatangan tamu yang tidak diundang. Asap.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah memengaruhi kualitas udara sejumlah negara tetangga. Aktivitas masyarakat terganggu. Persoalan kesehatan meningkat. Di Malaysia, sebagian anggota parlemen mulai meminta sikap pemerintah yang lebih tegas terhadap Indonesia.
Bisa dipahami. Tidak seorang pun ingin menghirup asap dari kebakaran yang terjadi di luar wilayah negaranya. Tetapi, perkembangan pada 15 Oktober justru menarik.
BACA JUGA:Kabut Asap Selimuti Kuala Lumpur, Pevita Pearce Tulis 'Get Well Soon, Indonesia' dan 'Malu'
BACA JUGA:Gubes Unair Desak Perda Gambut untuk Tangani Bencana Asap Kalimantan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: