Houthi oh Houthi
ILUSTRASI Houthi oh Houthi.-AI/Gemini-
BAGAIMANA MUNGKIN negara yang mampu membeli jet tempur paling canggih dan membangun pertahanan udara berlapis justru kerepotan menghadapi kelompok bersenjata dari negara tetangganya yang jauh lebih miskin Arab Saudi sedang menghadapi pertanyaan yang tidak nyaman itu. Serangan Houthi dari Yaman bukan sekadar persoalan rudal dan drone. Serangan tersebut menguji keyakinan bahwa uang, teknologi, dan superioritas persenjataan otomatis menghasilkan keamanan.
Pada 10 Oktober 2026, serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dilaporkan menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Beberapa hari kemudian, kompleks kantor Saudi Aramco di Dhahran juga menjadi sasaran. Houthi mengancam akan melanjutkan serangan terhadap bandara dan fasilitas energi Saudi.
Kelompok yang tumbuh dari konflik panjang di Yaman itu kembali memperlihatkan bahwa lawan yang lebih kecil tidak harus mengalahkan lawan yang lebih besar dalam pertempuran terbuka. Mereka cukup menemukan titik lemah yang membuat keunggulan militer lawan kehilangan sebagian maknanya.
BACA JUGA:Kemenhub Pantau Penerbangan ke Arab Saudi Imbas Serangan Houthi di Riyadh, Imbau Ini kepada WNI
BACA JUGA:Bunga, Houthi, dan BRICS
Itulah logika perang asimetris.
Andrew Mack, melalui esainya, Why Big Nations Lose Small Wars (1975), menjelaskan mengapa negara yang unggul secara material belum tentu menang menghadapi lawan yang lebih lemah. Jumlah pesawat, rudal, dan tentara tidak otomatis menentukan hasil akhir. Yang juga menentukan ialah bagaimana setiap pihak menetapkan tujuan, menghitung biaya, dan mempertahankan kemauan untuk bertempur.
Bagi Saudi, keamanan berarti melindungi penduduk, menjaga fasilitas energi, memastikan penerbangan berjalan, dan mempertahankan kepercayaan investor. Bagi Houthi, kemampuan melancarkan serangan yang mengguncang rasa aman lawan dapat menjadi keuntungan politik dan psikologis.
Houthi tidak perlu menandingi seluruh kekuatan udara Saudi. Mereka cukup membuat Riyadh terus bertanya: apakah bandara aman, apakah fasilitas minyak terlindungi, dan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk menghadapi serangan berikutnya?
BACA JUGA:Perang Timur Tengah Meluas, Houthi dan Arab Saudi Saling Serang, Kota Jizan Membara
BACA JUGA:Jalur Maritim Laut Merah Mulai Terganggu, Trump Ancam Houthi dengan 'Hukuman Militer'
Masalahnya, Saudi sedang menjalankan Visi 2030, ambisi besar untuk mengurangi ketergantungan pada minyak, mengembangkan pariwisata, dan menarik investasi global. Semua itu membutuhkan stabilitas. Investor tidak hanya menghitung keuntungan, tetapi juga risiko.
Ketika bandara dan fasilitas energi menjadi sasaran, yang dipertaruhkan bukan sekadar bangunan. Yang ikut dipertaruhkan ialah persepsi tentang keamanan sebuah negara yang ingin menjadi pusat bisnis dan pariwisata dunia.
Di sinilah kelemahan strategi yang hanya bertumpu pada pembelian persenjataan terlihat. Sistem pertahanan secanggih apa pun tetap harus berhadapan dengan keterbatasan: biaya pencegatan, luas wilayah yang harus dilindungi, dan kemungkinan serangan datang dalam gelombang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: