Bunga, Houthi, dan BRICS

Bunga, Houthi, dan BRICS

ILUSTRASI Bunga, Houthi, dan BRICS.-Arya/AI-Harian Disway-

HAMPIR dua minggu ini hidup saya seperti berhenti di kampus. Pagi sudah di Universitas Udayana. Malam baru pulang. Kami sedang mempersiapkan akreditasi LAMSPAK. Asesor akan datang. Dokumen dibuka lagi. Data diperiksa lagi. Kadang satu angka yang selama ini dianggap biasa tiba-tiba menjadi penting. Satu kegiatan beberapa tahun lalu bisa dicari buktinya sampai malam.

Biasanya pukul 7 baru bisa pulang.

Di rumah ternyata ada kesibukan lain.

Adik istri saya akan bertunangan.

Maka, setelah seharian berbicara tentang dokumen dan akreditasi, pembicaraan berubah menjadi pakaian, keluarga, makanan, dan bunga.

Di Bali bunga memang punya cerita sendiri.

BACA JUGA:Perang Timur Tengah Meluas, Houthi dan Arab Saudi Saling Serang, Kota Jizan Membara

BACA JUGA:Jalur Maritim Laut Merah Mulai Terganggu, Trump Ancam Houthi dengan 'Hukuman Militer'

Ada jepun. Ada jempiring. Ada mawar. Ada bunga-bunga kecil yang setiap hari terlihat sederhana, tetapi ketika ditempatkan dalam rangkaian atau persembahan, maknanya berubah. Jempiring sendiri bahkan menjadi identitas Kota Denpasar: warna putihnya dimaknai sebagai kesucian dan kejernihan, sementara harumnya kerap dikaitkan dengan taksu.

Saya jadi berpikir: politik dunia rupanya agak mirip toko bunga.

Tidak semua bunga harus berasal dari kebun yang sama.

Dan, tidak semua yang berdiri dalam satu vas harus mempunyai warna yang sama.

Dari situlah pikiran saya melompat jauh.

Ke Yaman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: