Baca Buku Bareng, Cara Komunitas Rabo Sore Ajak Mahasiswa Baru Cintai Sastra Indonesia

Baca Buku Bareng, Cara Komunitas Rabo Sore Ajak Mahasiswa Baru Cintai Sastra Indonesia

Membahas Fiksi hingga Teknik Kepenulisan, Komunitas Rabo Sore Gandeng Mahasiswa Baru Unesa di Gramedia Manyar--

Komunitas Rabo Sore punya cara unik untuk merawat kesukaan mereka pada karya sastra. Membaca bersama lalu membagikan isi bacaan menjadi rutinitas yang mengasyikan. 

BAGI kelompok mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang tergabung dalam Komunitas Rabo Sore, membaca karya sastra tidak hanya soal memahami jalan cerita. Di balik karya fiksi, ada persoalan sosial, teknik kepenulisan, dan cara pengarang membangun karakter yang seru untuk digali.

Itu pula yang mereka lakukan pada Sabtu, 12 September 2026, di spot membaca baru Gramedia Manyar, Surabaya. Komunitas mengajak para mahasiswa baru dari program studi Sastra Indonesia untuk berkumpul bersama.

Lewat buku, mereka bertukar pikiran, mengemukakan gagasan, sekaligus menjalin pertemanan dan keakraban satu sama lain. Percakapan mengalir dalam suasana akrab. 

BACA JUGA:Spesial Hari Sastra Nasional 3 Juli, Intip OOTD ala Tokoh Sastra Indonesia yang Bisa Jadi Inspirasi Gaya Klasikmu!

BACA JUGA:Festival Film Sastra Indonesia: Mahasiswa Unesa Tampilkan Empat Film Pendek Adaptasi Cerpen Kukila Karya Aan Mansyur

Membahas Karya Sastra hingga Teknik Kepenulisan


KOMUNITAS Rabo Sore membahas karya sejumlah penulis Indonesia dalam sesi Baca Bersama di Gramedia Manyar, Surabaya, pada 12 September 2026. --Dokumentasi Ruang Sastra & Gramedia

Kegiatan baca bersama menjadi agenda rutin yang berlangsung seminggu sekali. Sebelum pertemuan, para peserta diminta membaca cerpen yang telah dibagikan pada malam sebelumnya.

Dalam pertemuan Sabtu itu, para peserta membahas Kecelakaan Tunggal yang Menimpa Malik Botol bersama Sang Ibu Mertua dan Akibat-Akibat yang Ditimbulkannya, Seorang Lelaki Tidak Mati Dua Kali, dan Mencari Herman.

Satria Shendy, salah seorang anggota komunitas, mengatakan bahwa pembaca perlu melihat karya dari sudut pandang yang lebih luas. Yang ia sampaikan sore itu adalah tentang kesetaraan gender.

Menurutnya, penggambaran perempuan dalam sebuah karya tidak selalu berarti penulis sedang merendahkan perempuan. "Bisa jadi penggambaran itu justru merupakan bentuk kritik atau dobrakan terhadap nilai yang selama ini dianggap wajar," ujarnya. 

BACA JUGA:Profil Eka Kurniawan: Penulis yang Membawa Sastra Indonesia Mendunia

BACA JUGA:Tim Unesa Peduli Perluas Dukungan Psikososial bagi Siswa dan Guru Terdampak Gempa di Manggarai

Karena itu, sastra tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat merefleksikan kondisi sosial pada zamannya. Kritik terhadap penguasa, ketimpangan, maupun persoalan gender dapat disampaikan melalui cerita tanpa harus ditulis secara langsung.

Teknik kepenulisan juga menjadi pembahasan menarik. Salah satunya hook, yaitu cara membuka cerita dengan peristiwa yang langsung menarik perhatian pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: