Rupiah Terancam Tembus Rp19.000, BI Didesak Naikkan Suku Bunga Acuan
Rupiah melemah hingga Rp18.184 per dolar AS pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan demo ricuh di Bundaran HI.--Dokumentasi Harian Disway
JAKARTA, HARIAN DISWAY – Gejolak geopolitik global dan potensi pembengkakan defisit anggaran kian menekan nilai tukar rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Bank Indonesia (BI) didesak untuk segera mengambil langkah tegas dengan menaikkan suku bunga acuan guna menstabilkan mata uang garuda.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, ekonomi Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi "sakit". Akibat komplikasi tekanan eksternal dan internal.
Tensi tinggi di Timur Tengah serta konflik Rusia-Ukraina yang membakar kilang-kilang minyak memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga melampaui USD 100 per barel.
Kondisi itu melebihi asumsi APBN 2026 yang mematok harga minyak sebesar USD70 per barel dan kurs rupiah di level Rp16.500 per dolar AS. Lonjakan tersebut membebankan biaya impor energi yang sangat besar bagi pemerintah.
BACA JUGA:APBN 2027: Agar Setiap Rupiah Makin Bermakna bagi Rakyat
BACA JUGA:Lonjakan Harga Minyak dan El Nino Bikin Rupiah Loyo, Bisa Sentuh Rp18.200
"Pemerintah harus mempersiapkan dana yang cukup besar, di mana masalah BBM ini sangat krusial bagi masyarakat. Pemerintah harus fokus menanggulangi biaya energi ini, bahkan jika perlu mengalihkan atau mengurangi beban anggaran dari program lain seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih," ujar Ibrahim pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Selain lonjakan harga minyak, rupiah juga tertekan oleh kewajiban utang jatuh tempo pemerintah serta potensi hengkangnya dana asing (capital outflow) senilai USD15 miliar dari pasar modal domestik. Akibat ancaman downgrade status oleh MSCI pekan lalu.
Tekanan bertubi-tubi ini diproyeksikan berpotensi mengerek defisit anggaran hingga mendekati ambang batas 3 persen pada akhir tahun. Dari patokan awal sebesar 2,85 persen.
"Apabila tidak segera diintervensi, nilai tukar rupiah dikhawatirkan akan makin merosot hingga mendekati level Rp19.000 per dolar AS," kata Ibrahim.
BACA JUGA:Tok! DPR RI Setujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia 2026–2030
BACA JUGA:Menyambut Nakhoda Baru Bank Indonesia
Oleh karena itu, Ibrahim menegaskan bahwa peran Bank Indonesia sangat vital dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan moneter yang agresif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: