Menyambut Nakhoda Baru Bank Indonesia
ILUSTRASI Menyambut Nakhoda Baru BI.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
PRESIDEN Prabowo Subianto telah mengajukan dua nama calon pimpinan Bank Indonesia kepada DPR. Sosok Destry Damayanti oleh presiden diajukan sebagai calon gubernur Bank Indonesia (BI) dan Aida S. Budiman sebagai calon deputi senior gubernur Bank Indonesia.
Destry dan Aida bukan orang baru di sektor keuangan. Keduanya memiliki jejak panjang, sebelum masing-masing berkarier menjadi bagian dari pimpinan Bank Indonesia. Kini estafet kepemimpinan BI tampaknya akan dipegang oleh keduanya bila DPR menyetujui.
Saat dunia penuh gejolak, sejujurnya, tidak mudah bagi keduanya untuk memimpin BI ke depan. Namun, keduanya telah memiliki modal awal, rekam jejak yang panjang adalah investasi kepercayaan dari para pelaku pasar. Hal tersebut tidak mudah bisa dipenuhi.
Setidaknya hal itu terlihat ketika Perry Warjiyo mengundurkan diri dari gubernur BI, pasar tampak tidak begitu bergejolak. Sebab, kepemimpinan sementara BI dipegang Destry dan tim yang ada saat ini.
BACA JUGA:DPR Terima 4 Nama Calon Pejabat Bank Indonesia, Ini Daftar Usulan Prabowo
BACA JUGA:Independensi Bank Indonesia, Fondasi Kepercayaan Masyarakat
Pilihan Presiden Prabowo mengajukan Destry dan Aida adalah pilihan teknokrasi. Langkah itu menepis anggapan politisasi BI dan komitmen untuk menjaga pasar keuangan tetap kondusif. Di sisi yang lain, tentu hal tersebut bisa kita maknai sebagai penghormatan terhadap independensi BI.
Kita tidak ingin merusak independensi BI yang merupakan buah reformasi. Yang kita perlukan saat ini adalah peran masing-masing dengan kepemimpinan sektor keuangan yang jelas, terukur, dan memberikan kepastian arah kebijakan ke depan terhadap para pelaku pasar.
Tantangan BI
Dua mandat utama menjadi tanggung jawab BI, yakni mengendalikan nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Regulasi baru memberikan tugas tambahan agar BI ikut berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi dan mengembangkan UMKM.
Namun, di balik mandat itu, sejujurnya kita belum memiliki ”core policy” yang memandu arah kebijakan moneter. Sebagai perbandingan, Tiongkok memiliki arah kebijakan dengan kecenderungan melemahkan yuan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
BACA JUGA:Ekonom Celios Ungkap Kekhawatiran Pasar Jika Independensi Bank Indonesia Terganggu
BACA JUGA:Independensi Bank Indonesia dan Mahkamah Konstitusi
Sebab, dengan melemahkan yuan, harga barang-barang ekspor mereka lebih kompetitif di pasar global. AS pun kelabakan dengan banjirnya produk Tiongkok sehingga harus memasang barier dan terjadilah perang dagang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: