Menggagas Nasirunan
KEGIATAN diskusi Mewacanakan Nasirun di Artsubs, Balai Pemuda Surabaya. -Arif Afandi untuk Harian Disway -
”Nasirun itu tetap ndesit (sebutan ndeso atau kampungan, Red),” kata Nirwan. Membawa bahasa. Membawa cara bergaul yang membuat orang lain tidak harus bersusah payah menyesuaikan diri.
Ugo menghubungkannya dengan Bawor. Tokoh pewayangan Banyumasan yang bicara terus terang. Losss. Tidak sibuk membungkus diri agar tampak lebih tinggi daripada orang lain. Dianggap tukang kebun pun tidak menjadi persoalan. Harga dirinya tidak ditentukan oleh anggapan orang.
Baworisme. Begitu Ugo juga menyebutnya. Sikap yang membiarkan manusia tampil sebagaimana dirinya. Bisa terkenal tanpa harus menciptakan jarak. Bisa berhasil tanpa harus malu dengan tempat ia berasal.
Sejak awal Nasirun juga sudah terbiasa mengurus orang. Saat datang ke tempat kontrakannya ketika masih sekolah, Ugo menemukan Nasirun telah mempekerjakan enam orang untuk membatik. Kehidupannya berbeda dengan mahasiswa yang masih berkutat dengan kos atau kontrakan.
Artinya, sejak muda urusannya sudah menyangkut penghidupan orang lain. Ada pekerjaan yang harus diatur. Ada orang yang harus diajak berjalan. Kemampuan mengorganisasi itu kemudian menemukan maknanya dalam pergaulan seni rupa. Ia menjadi tempat berlindung.
Semula sikap semacam itu bisa saja dibaca sebagai strategi membangun nama: branding. Namun, kesaksian yang berulang membuat dugaan itu kehilangan pijakan. Sebab, yang diceritakan adalah perilaku sehari-hari. Berlangsung lama. Dirasakan orang-orang yang mengenalnya dari dekat.
Dalam berkarya pun, ia tidak serta-merta mudah dipahami. Ada yang mempertanyakan apakah ia sedang melukis atau membatik. Ada pula yang mencemooh lukisannya. Barangkali karena orang lebih mudah menerima sesuatu yang sudah tersedia kotaknya.
Nasirun membawa sesuatu yang tidak segera cocok dengan kotak itu. Wayang, tradisi, dan pengalaman hidupnya masuk ke karya. Sarah membacanya sebagai pertemuan antara yang lampau dan yang kini. Karyanya bisa dilihat berlapis-lapis. Berbeda pintu masuk, berbeda pula yang ditemukan.
Tampaknya, di situlah paradoks yang disebut Nirwan menjadi menarik. Tradisi ternyata tidak menghalangi seseorang menjadi kontemporer. Justru bisa menjadi sumber untuk berbicara tentang kehidupan sekarang. Asal tidak berhenti sebagai pengulangan bentuk.
Tapi, yang paling mengusik dari semua itu adalah pilihan hidupnya. Nasirun memilih seni sebagai jalan menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang selesai. Ungkapan terakhir itu terasa sederhana. Padahal, menjalaninya tentu tidak gampang.
Selesai dengan diri sendiri tidak berarti berhenti berkarya. Barangkali justru bisa terus berkarya tanpa harus terus-menerus bertengkar dengan pengakuan. Tanpa merasa terancam oleh keberhasilan teman. Tanpa perlu mengecilkan orang lain untuk membesarkan diri.
Saya tidak tahu apakah Nasirun pernah merumuskan semua itu. Bisa jadi tidak. Ia cukup menjalaninya. Orang-orang di sekelilingnya yang kemudian menemukan pelajaran. Tentang menjaga bahasa. Menjaga perilaku. Juga, belajar ikhlas seikhlas-ikhlasnya.
Perjalanan spiritualnya pun menjadi perhatian kawan-kawannya. Ada yang mulai mengikuti ketika ia masuk lebih jauh ke wilayah itu. Saya membacanya sebagai kebutuhan mencari kedalaman. Sebab, seni bisa menghasilkan karya. Tapi, kehidupan tetap membutuhkan pegangan.
Di tengah percakapan semacam itu, pertanyaan tentang mencari penghidupan dari seni tetap muncul. Wajar. Seniman juga harus hidup. Harus menemukan jalan agar bisa terus bekerja. Tidak semua orang memulai dengan keadaan yang lapang.
Justru karena itulah, keteladanan Nasirun terasa berarti. Keberhasilan tidak membuatnya kehilangan kepedulian pada kesulitan orang lain. Pengalaman berjuang tidak berhenti menjadi cerita tentang kehebatan diri. Ia hadir dalam cara memperlakukan sesama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: