Menggagas Nasirunan

Menggagas Nasirunan

KEGIATAN diskusi Mewacanakan Nasirun di Artsubs, Balai Pemuda Surabaya. -Arif Afandi untuk Harian Disway -

Cara hidup berkesenian ala Nasirun itu melahirkan apa yang disebut Alfi: Nasirunan. Nasirun dengan tambahan ”an”. Artinya, cara hidup yang suka menolong. Seperti teladan yang ditunjukkan selama hidupnya. Yang suka menolong sesama seniman dan siapa saja yang membutuhkan.

Tentu tidak perlu buru-buru menjadikannya paham yang baku. Apalagi, sampai semua perkataannya dianggap selalu benar. Keteladanan akan lebih berguna kalau membuat orang terus berpikir. Lalu, menemukan cara sendiri untuk berbuat baik.

Nasirunan bisa sesederhana menjaga mulut ketika sedang marah. Tetap menyapa ketika sudah terkenal. Membuka kesempatan ketika punya kemampuan. Tidak malu pada bahasa ibu. Dan, tidak merasa berkurang ketika membantu orang lain tumbuh.

Mungkin itulah yang membuat kepergiannya terasa begitu mengganggu. Yang hilang bukan hanya seorang pelukis. Tapi, seseorang yang membuat orang lain merasa bisa menjadi manusia lebih baik.

Lukisannya tinggal di banyak tempat. Cara hidupnya tinggal di banyak orang. Dari situlah Nasirunan mungkin akan terus berjalan. Saya bersaksi, Nasirun memang seniman, perupa, pelaku kebudayaan, yang layak menjadi teladan. 

Pekerjaan rumahnya kini bagaimana merawat karya-karya yang ditinggalkan. Agar tetap bisa dilihat generasi lintas zaman. Agar karya-karyanya tak hanya dinikmati para kolektor yang memilikinya. Tapi, mereka yang ingin belajar kehidupan dari pelukisnya.

Kelompok Nasirunan di Jogja mungkin telah memikirkannya. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: