Akademisi 'In This Economy'
ILUSTRASI Akademisi 'In This Economy'-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
”MAU riset lapangan ke luar kota? In this economy?” ”Mau ambil S-3 dulu sebelum naik jabatan? In this economy?” Frasa sarkastis yang lahir dari lini masa anak muda itu awalnya hanya menyindir mimpi-mimpi kecil yang terasa mewah: beli rumah, menikah muda, dan healing ke kafe kekinian.
Namun, belakangan frasa itu merambah ke ruang yang lebih senyap: ruang dosen, laboratorium kampus, dan meja kerja peneliti.
Data pencarian di internet memperlihatkan lonjakan tajam penggunaan frasa itu sepanjang tahun ini, bersamaan dengan kegelisahan kolektif soal daya beli yang melemah, PHK yang mengintai sektor rintisan dan industri kreatif, serta harga kebutuhan pokok yang terasa makin mengimpit.
Sejumlah pengamat menyebutnya gejala ”vibecession” –kondisi ketika angka pertumbuhan ekonomi makin dianggap tidak lagi mencerminkan perasaan riil masyarakat.
BACA JUGA:In This Economy, Sindiran Satir di Tengah Krisis Ekonomi dan Dampaknya pada Gaya Hidup Masyarakat
Frasa itu juga sering muncul berdampingan dengan sindiran lain yang tak kalah getir, ”kabur aja dulu”, yang menyuarakan keinginan sebagian anak muda terdidik untuk mencari peruntungan di luar negeri karena merasa negeri sendiri tidak lagi menjanjikan jalan yang adil.
Ironisnya, akademisi selama ini kerap memosisikan diri sebagai pengamat fenomena semacam itu dari kejauhan, lewat jurnal dan seminar, seolah menara gading kampus kebal dari kegelisahan yang sama.
Padahal tidak. Gaji dosen honorer yang tak kunjung naik, tunjangan kinerja yang cair terlambat, beban administrasi yang menggerus waktu riset, sampai godaan ikut jasa joki jurnal predator demi mengejar angka kum –semua itu adalah in this economy versi kampus.
Akademisi bukan penonton di luar arena. Mereka berdiri di tengahnya, sama gelisahnya dengan mahasiswa yang mereka ajar setiap hari.
Pertanyaannya bukan lagi apakah akademisi ikut terdampak, melainkan bagaimana seharusnya mereka berpikir, bersikap, dan bertindak di tengah kegelisahan kolektif ini, tanpa kehilangan fungsi mereka sebagai penjaga akal sehat publik.
Soal cara berpikir, akademisi perlu berhenti mengukur nilai kerja intelektual semata dari angka: skor Sinta, indeks Scopus, atau jumlah kum. Ukuran-ukuran itu penting untuk administrasi karier, tapi ketika menjadi satu-satunya kompas berpikir, riset kehilangan kontak dengan persoalan riil yang membuat orang-orang di luar kampus bergumam in this economy setiap hari.
Riset tentang ketahanan usaha kecil, misalnya, tidak banyak gunanya jika berhenti di rak jurnal berbayar tanpa pernah menyentuh pelaku usaha yang sebenarnya sedang megap-megap menghadapi kenaikan harga bahan baku.
Akademisi juga perlu rendah hati secara epistemik: mengakui bahwa banyak teori pembangunan karier dan model sukses yang diajarkan turun-temurun disusun untuk dunia kerja yang sudah tidak sepenuhnya sama dengan dunia yang dihadapi lulusan hari ini, yang harus bersaing dengan otomatisasi, gig economy, dan pasar kerja yang jauh lebih tidak pasti jika dibandingkan dengan masa ketika dosennya sendiri baru lulus kuliah.
Soal sikap, ada dua jebakan yang harus dihindari sekaligus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: