Pasar Saham Belum Stabil, Pemerintah Diimbau Tak Asal Bunyi Soal MSCI

Pasar Saham Belum Stabil, Pemerintah Diimbau Tak Asal Bunyi Soal MSCI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan berat setelah anjlok 11,57 persen ke level 5.185,10 pada penutupan perdagangan pekan lalu-disway.id/Bianca Khairunnisa-

SURABAYA, HARIAN DISWAY – Peringatan keras dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia memicu polemik baru.

Di tengah upaya regulator memperbaiki struktur pasar yang dinilai masih rentan terhadap spekulasi "investor paus", pernyataan para pejabat tinggi negara justru mendapat sorotan tajam dari kalangan akademisi. 

Salah satu yang menjadi sorotan adalah komentar Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad lewat akun Instagram pribadinya @sufmi_dasco pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

"Di bursa kita, bersama akan kita buat dan tentukan rating kita sendiri. Kita bersatu, bergerak dan berjuang. Menuju Bangsa Pemenang!” tulisnya. 

BACA JUGA:IHSG Tertekan usai Keputusan MSCI, Said Abdullah: MSCI Bukan Nabi, Jangan Monopoli Kebenaran

BACA JUGA:Fakta-Fakta IHSG Anjlok 11,57 Persen, Trading Halt hingga Rencana Perubahan Status MSCI

Unggahan yang merujuk pada ancaman MSCI soal evaluasi pasar saham Indonesia itu menuai banyak reaksi. Ia bagai mencibir pernyataan MSCI pada 15 Oktober soal potensi perubahan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market.

Pemerhati Instrumen Investasi dan Saham Universitas Airlangga (Unair) Gagas Gayuh Aji menyayangkan komentar tersebut. Ia mengatakan bahwa pernyataan pejabat tinggi negara berpotensi menimbulkan salah persepsi publik. Khususnya, bagi investor ritel.

Menurut Gagas, peringatan MSCI sejatinya merupakan warning agar regulator memperketat pengawasan terhadap pasar domestik yang selama ini diatur spekulan kakap secara acak.

Namun, narasi seolah-olah Indonesia siap berdiri sendiri (standalone) justru memicu tanda tanya besar di kalangan investor internasional.

BACA JUGA:Prabowo Tantang MSCI: Indonesia Tidak Takut Siapa Pun, Siap Hemat Besar-besaran

BACA JUGA:BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, Perkuat Insentif Hedging Demi Redam Gejolak Rupiah dan MSCI

"Pernyataan tersebut justru dikhawatirkan berdampak pada larinya investor asing. Di sisi lain, implikasinya bisa dimanfaatkan oleh bandar lokal untuk menjaring investor ritel yang sedang mengalami fear of missing out," ujar Gagas kepada Harian Disway pada Minggu siang, 25 Oktober 2026. 

Ia mengingatkan, langkah reaktif atau pernyataan yang terkesan menantang pasar global berisiko menggerus kepercayaan publik. Terutama, indeks pasar saham sempat ambles hingga belasan persen dua pekan lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: