Pemuda dan Nasionalisme Organik: Refleksi Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026

Pemuda dan Nasionalisme Organik: Refleksi Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026

ILUSTRASI Pemuda dan Nasionalisme Organik: Refleksi Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.-MAULANA PAMUJI GUSTI-HARIAN DISWAY-

Mengikuti integrasi sistem ekonomi nasional ke dalam sistem ekonomi global, dalam aspek budaya pun akan terjadi hal yang sama. Globalisasi menuntut adanya pengintegrasian sistem budaya nasional ke dalam sistem budaya global yang liberalistik. Dalam pandangan kaum modernisme, globalisasi dan modernisasi akan melahirkan homogenisasi kultural (penyeragaman budaya). 

Tantangan Pemuda Indonesia 

Salah satu tantangan di hadapan mata yang dihadapi para pemuda dan bangsa ini adalah globalisasi dan konsumerisme yang bergerak begitu cepat serta dampaknya begitu serius. Perlu diingat bahwa globalisasi, kapitalisme, dan konsumerisme bukanlah agenda atau proyek global yang tanpa nilai dan kepentingan. 

Globalisasi, kapitalisme, dan konsumerisme adalah proyek global yang dirancang dan dijalankan secara matang, terstruktur, dan sistematis oleh negara-negara industri maju (kapitalis) untuk menata sistem kehidupan global ini menjadi seragam sesuai dengan nilai, ideologi, dan kepentingan mereka. 

Konsekuensi dari rancangan global tersebut tentu saja akan berdampak pada hilangnya berbagai kearifan lokal dan keragaman budaya lokal. Efek dominonya akan berdampak pada nasionalisme bangsa. 

Homogenisasi budaya yang dirancang dan disemburkan melalui globalisasi, kapitalisme, dan konsumerisme makin merombak tata laku dan pola perilaku budaya masyarakat (lokal). Keseragaman juga telah menimbulkan kekacauan dan hilangnya identitas sosio-kultural di tingkat masyarakat. 

Identitas sosio-kultural masyarakat kian tergerus seiring dengan kuat dan gencarnya penetrasi budaya global (Barat). Contoh yang paling sederhana dalam masalah perilaku dan budaya makan. Masyarakat kita sudah gandrung dengan pola makan instan ala Barat atau yang disebut Ritzer (1993) sebagai ”McDonaldisasi”. 

Budaya serbainstan juga merembet pada aspek kehidupan yang lain di kalangan kaum muda mudi. Gaya hidup, norma, dan nilai, adat dan kebiasaan, keyakinan agama, pola kehidupan keluarga, cara produksi, dan konsumsi masyarakat pribumi rusak akibat penetrasi dan homogenisasi kultur Barat. 

Dampak lanjutnya, dominasi tren budaya asing di media sosial membuat sebagian anak muda kita lebih akrab dengan budaya global daripada budaya nasional. Praktik dan pola perilaku semacam itulah yang berujung pada makin lunturnya semangat nasionalisme di kalangan anak muda. 

Nasionalisme Organik 

Globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Meski demikian, sebagai bangsa yang memiliki nilai dan ideologi Pancasila, para pemuda kita mesti berpikir dan bertindak kritis. Salah satu yang penting dalam merespons dampak globalisasi adalah bagaimana membangun imunitas nasionalisme kita di kalangan pemuda. 

Kita sekarang sedang menghadapi ”perang asimetris” melalui teknologi informasi dan komunikasi. Kita sangat membutuhkan sikap nasionalisme genuine, bukan kepura-puraan yang sarat dengan pencitraan. 

Membangun imunitas nasionalisme pemuda dengan cara menyuntikkan ”virus kekebalan” ke setiap tubuh pribadi-pribadi anak bangsa. Salah satunya adalah membudayakan sikap mencintai Indonesia seutuhnya. Contoh sederhana, ”cintailah produk-produk dalam negeri”. 

Pada saat yang sama, kita butuh ”masinis-masinis” unggul. Bangsa ini membutuhkan pemuda-pemudi yang memiliki nasionalisme organik, yakni nasionalisme pemuda yang otentik, genuine yang lahir dari proses sejarah dan rahim rakyatnya, merasakan penderitaan ibu pertiwi. 

Nasionalisme organik pemuda, ketika mereka gelisah dan kritis terhadap kondisi bangsa dan negara ini. Ketika rahim ibu pertiwi dinodai dengan perilaku elite yang niretika dan merusak hukum, demokrasi, dan konstitusi demi ambisi kekuasaan politik dinasti dan oligarki. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: