Pemuda dan Nasionalisme Organik: Refleksi Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026
ILUSTRASI Pemuda dan Nasionalisme Organik: Refleksi Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.-MAULANA PAMUJI GUSTI-HARIAN DISWAY-
PADA 28 Oktober 1928 ada salah satu peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut menjadi salah satu embrio terpenting dalam sejarah lahirnya Indonesia. Peristiwa tersebut bermula dari pertemuan para pemuda yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, agama, suku, dan sebagainya, serta pembentukan organisasi-organisasi kepemudaan.
Perhimpunan pemuda itulah yang kemudian menginisiasi pelaksanaan Kongres Pemuda II, yang kemudian melahirkan sumpah yang sangat bersejarah, yakni Sumpah Pemuda: Satu Tanah Air Indonesia, Satu Bangsa Indonesia, dan Satu Bahasa Indonesia.
Kongres itu makin mengukuhkan peran penting pemuda dalam perjalanan pergerakan Indonesia. Sebelumnya ada 20 Mei 1908 yang juga diinisiasi para pemuda cerdas yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan visi besar tentang Indonesia ke depan.
Kini usia Sumpah Pemuda itu telah memasuki satu abad atau 100 tahun. Sebuah usia yang sudah penuh dengan kematangan. Dan, pada Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 ini, diharapkan semua anak bangsa, khususnya para pemuda pemudi, melakukan refleksi dan revitalisasi semangat nasionalisme dan kebangkitan baru menuju bangsa yang lebih beradab dan mandiri. Jika perlu, ada Sumpah Pemuda ke-2 yang lebih kuat dan progresif.
BACA JUGA:Sumpah Pemuda: Dari Sumpah Persatuan Menuju Ujian Peradaban
BACA JUGA:Sumpah Pemuda dan Nasionalisme yang Bekerja
Globalisasi dan Homogenisasi
Arus perubahan besar telah terjadi dan bergerak begitu cepat di seantero dunia. Dan, ternyata perubahan besar tersebut bukan sekadar perubahan yang bergerak secara alamiah, tetapi by design. Ada ideologi dominan yang menggerakkan perubahan besar tersebut, yakni kapitalisme.
Perubahan besar itu digambarkan secara detail oleh Karl Polanyi (2003) sebagai transformasi besar yang dikendalikan oleh ideologi dominan dunia, yakni kapitalisme. Ideologi itulah yang coba disemburkan ke berbagai pelosok dunia untuk bisa diterapkan sebagai ideologi tunggal dalam praktik pembangunan.
Kita hidup di dalam dunia transformasi yang memengaruhi hampir setiap aspek dari apa yang kita lakukan. Entah baik atau buruk, kita didorong masuk ke tatanan global yang tidak dipahami sepenuhnya oleh siapa pun, tetapi dampaknya dapat dirasakan kita semua. Itulah yang disebut oleh Giddens sebagai globalisasi.
Kondisi tersebut apa yang digambarkan oleh futurolog John Naisbit (1994) dan Alvin Toffler (1980) sebagai gambaran dunia yang makin sempit, kecil, dan terintegrasi akibat arus globalisasi dan perkembangan teknologi komunikasi. Siapa yang menguasai informasi, ia akan menguasai dunia.
BACA JUGA:Sumpah Pemuda dan Kisah Lain Mencari Format Bahasa Nasional
BACA JUGA:Haedar Nashir: Generasi Muda Harus Jadi Penjaga Nilai Sumpah Pemuda
Sebagaimana dikemukakan ahli komunikasi Kanada, Marshall McLuhan, melalui karya The Gutenberg Galaxy (1962), dunia bagaikan suatu kampung besar (global village). Kehidupan kita tak dapat melepaskan diri dari kehidupan global. Batas-batas teritorial sebuah negara dipahami bukan sekadar batas geografis yang memisahkan sebuah negara dengan negara lain, melainkan batas-batas budaya, yang memisahkan sebuah komunitas budaya yang satu dengan yang lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: