Saat Aplikasi Canggih Malah Menyusahkan Warga

Saat Aplikasi Canggih Malah Menyusahkan Warga

Kritik tajam digitalisasi: Menguji kemanusiaan dan tanggung jawab manusia saat sistem algoritma salah.-Harian Disway-Nano Banana 2

BACA JUGA:FGD Bank Indonesia dan Dosen serta Peneliti 26-27 Oktober 2026 (4): Transaksi Digital dan Kewarasan Finansial

Di perguruan tinggi, tantangannya melampaui penggunaan AI untuk menyelesaikan tugas. Jika mahasiswa cukup menyerahkan jawaban yang rapi, kampus berisiko menilai hasil mesin sebagai kemampuan berpikir. Penilaian perlu memberi ruang bagi penjelasan proses, pemeriksaan sumber, dan pertanggungjawaban argumen. Teknologi seharusnya membantu mahasiswa menguji pemahaman, bukan menutupi ketiadaannya.

Ada pula biaya yang tersembunyi di balik istilah komputasi awan. Dalam laporan Key Questions on Energy and AI, IEA memproyeksikan konsumsi listrik pusat data dunia meningkat dari 485 terawatt-jam pada 2025 menjadi sekitar 950 terawatt-jam pada 2030. Infrastruktur digital mempunyai kebutuhan fisik yang harus diperhitungkan dalam kebijakan pembangunan.

Angka tersebut tidak berarti semua penggunaan AI perlu ditolak. Ia menuntut perbandingan manfaat dan biaya secara jernih. Organisasi perlu memilih kapasitas komputasi sesuai persoalan, mengukur konsumsi energi, dan menghindari pemborosan penyimpanan. Kecanggihan yang berlebihan untuk pekerjaan sederhana dapat menjadi pemborosan yang dibungkus sebagai inovasi.

Evaluasi juga harus mendengarkan orang yang gagal menggunakan layanan. Survei kepuasan yang hanya menjangkau pengguna berhasil akan menyembunyikan mereka yang tersisih sejak awal. Institusi perlu mencatat kegagalan akses, waktu penyelesaian keluhan, dan kelompok yang paling sering dirugikan. Dengan begitu, perbaikan teknologi berpijak pada pengalaman warga, bukan hanya laporan penyedia yang berkepentingan menunjukkan keberhasilan produknya.

Pemerintah, kampus, dan perusahaan dapat memulai perubahan dari pengadaan teknologi. Kontrak perlu memuat kewajiban pengujian, perlindungan data, mekanisme pengaduan, serta penanggung jawab ketika sistem merugikan pengguna. Keberhasilan kemudian dinilai melalui masalah yang terselesaikan dan kemudahan pemulihan hak, bukan berhenti pada peluncuran aplikasi yang meriah.

Menjaga kemanusiaan di tengah arus digital akhirnya berarti memastikan bahwa manusia tetap dapat bertanya, menolak, dan memperoleh koreksi. Kemajuan layak dirayakan ketika warga yang paling kesulitan pun tetap mendapat tempat. Sebab, pada akhirnya, mutu peradaban digital dapat diuji melalui satu pertanyaan sederhana: ketika sistem salah, apakah manusia masih bersedia bertanggung jawab?

*) Dosen Teknik Informatika Universitas 45 Surabaya

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: