Era Baru Demokratisasi Sastra Digital

Era Baru Demokratisasi Sastra Digital

ILUSTRASI Era Baru Demokratisasi Sastra Digital.-MAULANA PAMUJI GUSTI-HARIAN DISWAY-

Akun lainnya adalah Abdulloh faqih @coretsendiri yang mengunggah foto syair atau puisi. Unggahannya berupa rangkaian kata dan mempersilakan pembaca menulis sendiri kelanjutan dari puisi-puisi tersebut melalui komentar. 

Interaksi pembaca menunjukkan immersif atau keterlibatan emosional. Pilihan kata, suara audio, dan tampilan visual menciptakan keindahan baru yang memikat pembaca karena merasa terhubung. Ruang baru berpuisi dapat disimak melalui balasan atau melanjutkan puisi-puisi tersebut.  

Interaksi berpuisi di TikTok memanfaatkan fitur kolom komentar, responsnya sangat bervariatif dan menunjukkan cara yang berbeda-beda dalam berpuisi. Puisi digital tidak hanya soal diksi atau pilihan kata semata, tetapi juga melibatkan elemen latar, suara, audio atau musik, warna, video, dan gambar yang indah. 

Ruang sastra baru menggunakan  interaktivitas untuk menghubungkan penulis dan pembaca. Hayles (2008) menjelaskan bahwa teks tidak hanya hasil pemikiran tunggal penulis, tetapi juga melibatkan hubungan dinamis antara manusia, mesin digital (medium), dan pembaca. 

Hayles mengingatkan adanya kepentingan politik ekonomi platform di balik interaktivitasnya. Interaktivitas diperjelas oleh McErlean (2018) bahwa komunikasi timbal balik penulis-medium-pembaca saling memengaruhi dalam menghidupkan karya digital. 

Interaktivitas pada storytelling melibatkan aktif pembaca yang membuat keputusan melalui feedback. Interaktivitas juga diperkuat oleh Bold (2018) bahwa pembaca sastra digital berperan aktif dalam proses penulisan, menciptakan loyalitas, dan membangun pasar. 

Pembaca terlibat memilih konten, kurasi karya populer, dan membentuk komunitas melalui umpan balik. Kepengarangan dalam sastra digital bersifat sosial, tidak bersifat tunggal, dan respons pembaca memengaruhi keberlanjutan isi konten berikutnya.

Interaktivitas pembaca pada sastra digital telah menciptakan ruang baru yang lebih luas bagi penulis dan pembaca dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.  Sastra digital digunakan untuk mendekatkan sastra kepada generasi muda dengan cara yang khas dan menarik. 

Partisipasi aktif dapat memberikan pengalaman baru dalam menikmati sastra. Di satu sisi sastra digital dapat membangun ruang demokratisasi melalui akses dan interaksi. Namun, di sisi lain, adanya kemungkinan makna yang tereduksi atau pendangkalan makna sastra. 

Teks yang terpecah-pecah, penampilan ringkas, serbacepat sehingga terkesan instan dan terburu-buru untuk mengejar algoritma trending. Kualitas dan kedalaman makna secara filosofi harus dipertimbangkan untuk menjaga eksistensi sastra digital. 

Pada akhirnya, harapan untuk sastra digital adalah terciptanya ruang baru bagi demokratisasi sastra yang diiringi dengan kualitas, kedalaman, dan kekayaan makna. (*)

*) Tiara Indahputri Solihin adalah mahasiswa magister kajian sastra dan budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: