Selembar Kertas dan Sandi Batik di Meja Hijau: Membaca Arus Bawah di Balik Sidang Ijazah
Dr. Wira Yudha Alam,. M.IP., M.SM. adalah pengamat ekonomi, politik, dan komunikasi. -ISTIMEWA-
Kehadiran langsung Joko Widodo di persidangan hingga larut malam mengubah meja hijau menjadi panggung komunikasi politik tingkat tinggi. Dari mesin reproduksi keraguan hingga pasemon batik burung biru di dada, ada tarian sunyi di tengah pergeseran musim kekuasaan.
ADA perkara hukum yang layu karena waktu. Namun, ada pula perkara yang sengaja dirawat agar tetap bernapas karena menyimpan fungsi strategis. Gugatan mengenai keabsahan ijazah Presiden Ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo jelas berada di kategori kedua. Ketika persidangan perkara itu kembali digelar hingga larut malam pada Kamis kemarin, publik sesungguhnya sedang disuguhi sebuah tontonan yang melampaui batas-batas hukum acara perdata maupun pidana.
Kehadiran langsung sang mantan kepala negara di ruang sidang –dengan balutan kemeja batik yang dipilih secara cermat– mengubah gedung pengadilan dari sekadar tempat menguji bukti administratif menjadi panggung komunikasi politik tingkat tinggi.
Pertanyaan paling mendasar dari peristiwa malam itu bukan lagi soal apakah selembar kertas dari masa lalu tersebut asli atau palsu. Pertanyaan yang jauh lebih penting bagi masa depan demokrasi kita adalah mengapa isu tersebut terus direproduksi tanpa henti, mengapa ia begitu memikat imajinasi masyarakat luas, dan arus kekuasaan apa yang sedang bergerak sunyi di balik pintu ruang sidang?
BACA JUGA:UGM Respons Jokowi Pamer Ijazah S1 di Sidang Dugaan Ijazah Palsu Roy Suryo
BACA JUGA:9 Fakta Kesaksian Jokowi di Sidang Roy Suryo, Ungkap Tanggal Lulus dan Nomor Ijazah UGM
Ekonomi Perhatian dan Mesin Reproduksi Keraguan
Mengapa narasi tentang ijazah seorang mantan presiden masih sanggup menyedot perhatian jutaan pasang mata, bahkan ketika bangsa ini sedang dihadapkan pada impitan ekonomi yang jauh lebih nyata? Jawabannya berakar pada psikologi massa dan cara kerja ekonomi perhatian di era digital.
Secara sosiologis, ijazah adalah simbol paling elementer dari kejujuran administratif dan tiket mobilitas sosial bagi masyarakat kebanyakan. Berbeda dengan polemik defisit anggaran, utang luar negeri, atau kompromi regulasi tambang yang rumit dan abstrak di telinga warga, tuduhan mengenai ijazah palsu sangat mudah dicerna oleh nalar awam. Isu itu bekerja sebagai penyederhana konflik yang sangat ampuh.
Logika yang dibangun oleh para pemutar isu tersebut sangat sederhana namun mematikan: apabila fondasi paling dasar dari riwayat hidup seorang pemimpin dinyatakan cacat, seluruh bangunan kebijakan, warisan pembangunan, hingga legitimasi politik yang ditinggalkannya selama satu dekade otomatis runtuh secara moral.
Narasi itu terus diputar ulang karena ia adalah bahan bakar beroktan tinggi yang sangat murah di ekosistem media sosial. Algoritma platform digital selalu memberikan ruang berlipat kepada kemarahan dan rasa penasaran publik.
BACA JUGA:Jokowi Ungkap Riwayat Pendidikan di Sidang Ijazah, Sebut SDN 111 hingga Fakultas Kehutanan UGM
BACA JUGA:Jokowi Siap Tunjukkan Ijazah SD hingga S1 Hari Ini, Kuasa Hukum: Semoga Fitnah Berakhir
Bagi kelompok-kelompok yang menyimpan residu kekecewaan terhadap satu dekade pemerintahan masa lalu, merawat isu ijazah adalah cara paling praktis untuk menjaga militansi barisan mereka agar tidak padam. Selama palu hakim belum menutup buku secara permanen, selama itu pula kabut keraguan berhasil ditanamkan di benak masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: