Laoximen, Salah Satu Distrik Tertua Shanghai, yang Akan Lenyap Ditelan Modernitas

Senin 01-08-2022,08:12 WIB
Editor : Doan Widhiandono

Laoximen sudah ada di kawasan Shanghai sejak abad ke-16. Tetapi, jejak peradaban itu akan lenyap sebentar lagi. Arus modernisasi menelannya.

 

LAOXIMEN berarti Gerbang Barat Lama. Itu merujuk pada posisinya sebagai salah satu tembok pertahanan abad ke-16 di Shanghai. Pada abad itu, Shanghai sudah cukup besar. Dan Laoximen adalah pusat kebudayaan kota.

 

Jantung Laoximen adalah sebuah kelenteng Konghucu. Tempat ibadah itu dikelilingi bangunan berlantai dua atau tiga. Bangunan batu plus kayu. Kawasan itu seperti menawarkan atmosfer lain pada Shanghai yang cakrawalanya dipenuhi gedung jangkung berkilauan.

 

Sekitar enam abad sejak berdirinya, Laoximen masih terasa sebagai kawasan yang liat. Bangunan tuanya bertahan. Demikian juga sekelompok kecil warga yang masih ingin menantang arus zaman.

 

Laoximen memang dipenuhi warga miskin dan pekerja migran yang terpikat ongkos sewa yang rendah. Mereka menyemut di kawasan itu, meskipun otoritas setempat sudah memerintahkan mereka untuk pindah sejak 2017. Tetapi, lima tahun setelah perintah pengosongan itu, warga masih tetap bertahan. Sampai batas akhir.

 

Salah satu warga itu bernama Yang. Kepada Agence France-Presse yang mewawancarainya, ia menolak menyebutkan nama lengkapnya. Ia adalah penghuni terakhir yang masih menolak kompensasi dari pemerintah. Yang memilih bertahan di rumahnya, sebuah perkampungan bak labirin yang lembap dengan jalanan yang disesaki perabotan tua dan peralatan rumah tangga.

 

’’Tanah ini dibeli oleh kakek saya,’’ kata Yang. Menurutnya, keluarganya telah tinggal di kawasan itu pada 1949. Sebagian besar tetangganya memang telah pergi. Tetapi Yang memilih bertahan. Atas nama kenangan.

 

Pemkot Shanghai sudah punya skenario untuk memindah warga. Setiap rumah dihargai 20 ribu Yuan atau sekitar Rp 44 juta per meter persegi. Warga yang pindah cepat bahkan mendapat bonus.

 

Uang itu memang mepet untuk membeli apartemen bekas di Shanghai. Saat ini, apartemen tangan kedua rata-rata berharga 55 ribu Yuan (sekitar Rp 120 juta) per meter persegi.

 

Pembangunan memang sempat rehat karena pandemi. Tetapi, pertengahan tahun ini, sejumlah pekerja tampak sudah beraksi. Pintu dan jendela sudah disegel dengan blok-blok semen. Sedangkan tumpukan kursi dan meja tua teronggok di jalanan.

 

Laoximen memang menjadi salah satu dari ribuan kompleks perumahan tua di Tiongkok yang akan diremajakan. Penduduk dipindah, tanah dibeli, dan akan berubah wajah menjadi kompleks bangunan modern.

 

Menurut pemerintah Shanghai, gang-gang Laoximen yang padat akan menjadi area perumahan modern. Itu akan membatu kota tersebut membatasi populasi, yakni menjadi sekitar 25 juta saja pada 2035.

 

Selain itu, pembangunan tersebut juga untuk menekan ’’penyakit kota besar’’. Yaitu kemacetan dan munculnya permukiman kumuh.

WAJAH MODERN Distrik Lujiazui, Shanghai. Gedung-gedung tinggi memenuhi cakrawala.-HECTOR RETAMAL-AFP -

 

Tentu saja, Laoximen akan abadi. Setidaknya di dalam memori warga yang pernah tinggal di situ. Wu Weigang, mengenang Laoximen sebagai tempat yang asyik saat Imlek. ’’Semua orang menyulut mercon dan menggantung lampion,’’ ucap pensiunan yang kini tinggal di apartemen di Distrik Qingpu tersebut. Sesekali, Wu mampir ke Laoximen untuk berbincang dengan bibinya. Atau mengunjungi tetangga lamanya.

 

Sebagian bangunan di Laoximen memang tua. Kebanyakan dibangun pada abad ke-20. Karena itu, pembongkaran wilayah itu seperti perburuan harta karun bagi pedagang barang antik. Mereka menunggu di depan rumah-rumah yang akan ditinggal penghuninya. Siapa tahu, mereka tertarik menjual perabot lawas yang punya nilai seni tinggi.

 

Kini, saat malam, yang tertinggal di Laoximen adalah atmosfer suram. Gang-gang sepi. Tak ada orang berlalu lalang.

 

Pemerintah Shanghai berjanji bahwa pembangunan kawasan itu akan disesuaikan dengan kepentingan publik. Kawasannya menjadi modern, tetapi tidak tercerabut begitu saja dari akar sejarah arsitektur perkotaan Tiongkok seabad lalu.

 

Kata Wu, rumahnya termasuk yang akan dipertahankan. Sebagai cagar budaya. ’’Kalau rumah itu lenyap, saya akan sedih,’’ ucap Wu. (Doan Widhiandono)

Kategori :