Jenderal Dudung Cerita Pernah Jadi Loper Koran

Sabtu 03-09-2022,04:00 WIB
Reporter : Michael Fredy Yacob
Editor : Tomy C. Gutomo

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Ini pesan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) jenderal Dudung Abdurrachman kepada mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Ada tiga kunci sukses dalam kehidupan. Yaitu: lupakan masa lalu. Kemudian, melakukan segala sesuatu dengan maksimal. Terakhir, fokus meraih cita-cita. 

Dudung pun menceritakan masa lalunya.  ”Saya orang miskin. Pernah jadi loper koran. Jualan di mana-mana. Tapi dengan tekad dan kerja keras yang saya lakukan, akhirnya, saya bisa meraih cita-cita. Kunci yang saya pegang adalah menebarkan kebaikan kepada semua,” ucap Dudung di depan mahasiswa yang memenuhi Graha Unesa, Jumat 2 September 2022. 

Selama dua jam Dudung memberikan kuliah umum dengan tema: Menguatkan Wawasan Kebangsaan Menuju Indonesia Maju yang Harmoni. Ia mengingatkan mahasiswa bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Diraih dengan perjuangan yang besar pula.

“Perjuangan merebut bangsa ini dari penjajah ketika itu sangatlah keras. Butuh waktu berabad-abad lamanya. Banyak darah bercucuran dan nyawa yang hilang kala itu. Barulah bisa terbentuk NKRI. Kini, kita merasakan kenikmatan dari jeri payah para pejuang itu,” katanya.


Mahasiswa baru Unesa mendengarkan ceramah Jenderal TNI Dudung Abdurachman tantang wawasan kebangsaan.-Julian Romadhon-Harian Disway-I

a mencontohkan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Para pejuang termasuk Bung Tomo dan para santri, melawan penjajah dengan senjata apa adanya. Makna dari perjuangan itu, kata Dudung, adalah pentingnya sikap rela berkorban, pantang menyerah sekalipun nyawa yang dipertaruhkan. juga kebersamaan, gotong royong, optimisme, percaya diri, dan nasionalisme. Nilai ini, seharusnya terpatri dalam diri generasi bangsa.

Ia meyakini mahasiswa adalah generasi yang unggul. Keilmuan dan karakternya telah terjamin. Dudung mendorong agar mahasiswa terus menjadi agen perubahan.  “Kalian ini (mahasiswa Unesa) adalah garda terdepan untuk menjaga nilai Pancasila,” ucapnya. 

Mahasiswa, lanjut Dudung, juga memerankan diri sebagai kontrol sosial yang peka di tengah masyarakat. Jika ada informasi yang bernada provokatif di mana pun, mahasiswa harus cepat memberikan pemahaman dan penyadaran kepada masyarakat

Dudung berharap ke depan banyak tokoh besar Indonesia lahir dari Unesa. Karena itu, ia mengajak mahasiswa agar memiliki imajinasi dan inovasi. Serta harus punya visi-misi, cita-cita juga harapan. “Kalau tidak punya ini semua. Kalian hanya menjadi  biasa-biasa saja,” tegasnya.

Rektor Unesa Prof Dr Nurhasan MKes mengatakan bahwa Unesa adalah kampusnya Pancasila. Sebab, mereka dengan konsisten menanamkan nilai Pancasila di dalam dan luar kampus. Di dalam kampus, Unesa terus menempuh langkah pencegahan.

Yakni melalui seminar wawasan kebangsaan dan Pancasila. Juga banyak penelitian relevan yang dihasilkan dalam menguatkan ideologis Pancasila.

“Kami juga memprogramkan mata kuliah Pendidikan Pancasila yang wajib diambil semua mahasiswa Unesa. Salah satu tujuannya agar mahasiswa memiliki nilai-nilai Pancasila yang terwujud dalam perilaku kehidupan sehari-hari,” katanya.

Selain itu, di Unesa juga ada Pusat Studi Ideologi di bawah naungan LPPM Unesa. Lembaga ini sebagai garda terdepan untuk membangun ideologi kebangsaan. Berbasis nilai Pancasila dan mendeteksi dini gerakan yang berbahaya bagi keutuhan bangsa di dalam kampus.

Di luar kampus, Unesa merintis desa Pancasila di berbagai daerah Jawa Timur. “Dengan semua ini, Unesa berkomitmen menjadi pusat pendidikan Pancasila dan terus menyiapkan langkah preventif mengantisipasi paham yang mengancam ideologi Pancasila,” ungkap dosen yang akrab disapa Cak Hasan itu. (*)

Kategori :