Sumbang 8.000 Pasukan, Sugiono Pastikan Indonesia Bebas Iuran Board of Peace
Pasukan Interim PBB Unifil yang beranggotakan prajurit TNI bertugas di sekitar Lebanon. Foto diambil 7 November 2025-Rabih Daher/AFP-
HARIAN DISWAY – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menegaskan bahwa posisi Indonesia di Dewan Perdamaian (Board of Peace) tetap kokoh tanpa harus memberikan kontribusi finansial.
Meskipun forum internasional tersebut menawarkan biaya kontribusi sebesar USD 1 miliar (sekitar Rp15,6 triliun) bagi para anggotanya, Indonesia memilih jalur kontribusi melalui pengerahan kekuatan militer dalam misi kemanusiaan di Gaza.
Sugiono menjelaskan bahwa pembayaran tersebut bersifat opsional dan bukan merupakan syarat mutlak bagi keanggotaan Indonesia. "Dari awal saya bilang ini namanya bukan iuran keanggotaan. Bukan syarat keanggotaan. Kita sekarang sudah anggota (Board of Peace) jadi tidak perlu bayar juga tidak apa-apa," ujar Sugiono pada Jumat, 20 Februari 2026 waktu setempat.
Menurutnya, setiap negara anggota memiliki mekanisme berbeda dalam mendukung stabilitas di Palestina. Di saat sembilan negara donor—termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Kuwait—telah berkomitmen memberikan dana total sebesar USD 7 miliar untuk rekonstruksi Gaza, Indonesia hadir dengan kekuatan personel sebagai bentuk kontribusi nyata di lapangan.
BACA JUGA:Sugiono: Penunjukan Indonesia Sebagai Wakil Komandan Pasukan Perdamaian Adalah Pengakuan Dunia
BACA JUGA:Prabowo: Pengiriman 8.000 Pasukan RI ke Gaza Ditargetkan 1–2 Bulan Lagi
Indonesia berencana mengerahkan hingga 8.000 personel TNI yang akan bergabung dalam International Stabilization Force (ISF). Langkah masif ini bahkan membuahkan posisi strategis bagi Indonesia, yakni sebagai Wakil Komandan (Deputy Commander) Bidang Operasi di bawah komando Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono mengatakan bahwa jabatan Wakil Komandan pasukan ISF adalah bukti pengakuan internasional terhadap Indonesia-Bakom RI -
"Karena pasukan Indonesia juga merupakan yang terbanyak di sana, maka Deputy Commander operasi merupakan sesuatu penghormatan. Jadi kontribusinya ada yang dalam bentuk uang, ada yang pasukan," jelas Sugiono.
Penunjukan Indonesia sebagai wakil komandan merupakan pengakuan dunia terhadap rekam jejak (track record) dan reputasi prajurit TNI di berbagai misi perdamaian global. Sugiono meyakini bahwa kehadiran fisik ribuan personel Indonesia jauh lebih bernilai dalam menjaga stabilitas sipil ketimbang sekadar bantuan finansial.
BACA JUGA:Sugiono Tegaskan Indonesia Anggota Tetap Board of Peace Tanpa Iuran 1 Miliar Dolar AS
BACA JUGA:Indonesia Dipercaya Jadi Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Gaza, Siap Kirim 8.000 Prajurit
Meskipun memegang kendali operasi, Sugiono kembali menegaskan bahwa misi Indonesia murni untuk tujuan kemanusiaan dan perlindungan warga sipil, bukan untuk operasi militer ofensif atau pelucutan senjata. Posisi strategis di struktur ISF ini pun diharapkan dapat mempermudah Indonesia dalam menjalankan misi kemanusiaan tersebut secara efektif.
"Kedudukan ini juga akan bisa memfasilitasi apa yang menjadi tujuan dan niatan kita mengirimkan pasukan di ISF," pungkasnya.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: