Ketika Mahasiswa Untag Kopi Darat dengan Ndarboy Genk

Minggu 04-09-2022,04:00 WIB
Reporter : Mifta Sho
Editor : Retna christa

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Ingat kata mendiang Didi Kempot. Patah hati itu jangan ditangisi. Dijogeti ae. Santai saja. Kalau perlu, sambil dibawa berdansa.  

Maka, itulah yang dilakukan ribuan mahasiswa dalam konser penutup kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Expo 2022 Minggu malam, 28 Agustus 2022 lalu. Mereka larut dalam lantunan lagu pop dangdut Jawa yang dibawakan oleh Ndarboy Genk. Spesialis lagu-lagu patah hati. Cocok buat menemani mereka yang sedang berduka oleh cinta.

Rektor Untag Surabaya Prof Mulyanto Nugroho mengajak seluruh mahasiswanya menikmati keseruan malam itu. ’’Mudah-mudahan kita hari ini enjoy dan senang,’’ ucapnya dengan penuh semangat. ’’Harapan saya, dengan adanya hiburan ini, para mahasiswa semakin semangat dalam mengikuti proses perkuliahan,’’ tambahnya.

Teriakan suara penonton terdengar bahkan sebelum Ndarboy Genk beserta pemain musik naik ke atas panggung. Keriuhan semakin pecah ketika pengiring musik membuka penampilan dengan lagu berjudul Ojo Dibandingke yang viral itu. Tanpa dikomando, penonton berjoget dan bernyanyi hingga lagu selesai.

’’Aku reti njobomu mung sok tegar, asline njeromu ambyar,’’ kata Ndarboy, mengawali obrolan dengan para penonton malam itu. Saya tahu kamu hanya pura-pura kuat, tapi aslinya hancur, begitu kira-kira sapaannya. Penyanyi bernama asli Helarius Daru Indrajaya itu lantas melantunkan lagu berjudul Ambyar Mak Pyar.


-Miftakhul Rozaq-Harian Disway-
Lagu itu langsung bikin penonton bergoyang. Bahkan para tamu VVIP, antara lain, Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya J Subekti, rektor beserta para dekan, hingga jajaran civitas lainnya asyik berdendang.

Kudu Nangis, lagu terbaru Ndarboy, juga dibawakan pada malam terakhir PKKMB Untag tersebut. Diiringi flashlight ponsel, seluruh penonton mengikuti gerakan Ndarboy yang melambai-lambaikan tangan. Sementara itu, lagu Kudu Nangis begitu menyentuh hati para penonton. Bahkan beberapa di antaranya tersedu dan meneteskan air mata.

’’Ati koyok diiris-iris, karo janjimu sing lamis (hati seperti diiris oleh janjimu yang hanya di mulut saja.’’ Begitulah penggalan lirik Kudu Nangis yang bikin banyak mahasiswa merasa related.

Ndarboy lantas menceritakan latar belakang lagu tersebut. Kudu Nangis merupakan lanjutan dari lagu Ojo Nangis yang juga ia bawakan malam itu. Penggemar Didi Kempot itu mengaku bahwa lirik lagunya benar-benar tercipta dari isi hati. Meski dilatarbelakangi putus cinta, lagu itu juga mengandung pesan untuk tetap kuat dan tegar.


LAUTAN mahasiswa Untag dari berbagai angkatan dan jurusan terlarut mendengar alunan lagu-lagu patah hati dari Ndarboy Genk. -Miftakhul Rozaq-Harian Disway-


’’Syukur-syukur apa yang saya rasakan juga dirasakan oleh orang lain,’’ kata Ndarboy. Ia juga berharap, lagu-lagunya dapat menjadi soundtrack di hidup orang banyak.

Di tengah-tengah konser, pemuda berusia 29 tahun itu mengajak penonton untuk menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. Sebagai bentuk penghormatan terhadap jiwa-jiwa mahasiswa yang peduli terhadap kemakmuran, kesejahteraan, serta keadilan seluruh masyarakat. Selaras dengan semangat nasionalisme yang ditanamkan di Untag Surabaya.

Pria yang merupakan alumnus jurusan Seni Musik Universitas Negeri Semarang lantas bercerita. Dulu, semasa mahasiswa, ia adalah seorang aktivis kampus. ’’Tepatnya pada tahun ketiga,’’ ungkapnya.

Menurutnya, manfaat dan pengalaman yang ia dapat selama jadi aktivis sangat banyak. Dan masih ia rasakan hingga sekarang. Maka, Ndarboy mengajak seluruh mahasiswa untuk menjadi aktivis. Tidak harus di bidang politik dan diwujudkan dengan berdemo. Tapi, mereka bisa aktif di berbagai hal yang disukai.


SALAH SEORANG penonton yang terhanyut oleh nyanyian Ndarboy Genk di Untag Surabaya, 28 Agustus 2022.-Miftakhul Rozaq-Harian Disway-

’’Menjadi mahasiswa aktivis atau berkegiatan di kampus itu bagus. Karena kita bisa membangun banyak relasi yang juga bagus,’’ tutur Ndarboy. ’’Tanggung jawab kuliah itu tidak hanya untuk pribadi, tapi juga kepada orang tua. Tantangan yang paling besar itu bukan menyelesaikan kuliah, tetapi setelah lulus kuliah kamu harus membuktikannya dengan apa,’’ paparnya bijak.

Ndarboy menutup konser dengan lagunya yang paling fenomenal, Mendung Tanpo Udan. Total, ia membawakan sepuluh lagu, dan sukses membuat ambyar warga Untag Surabaya. Ia berpesan kepada mahasiswa yang masih ambyar untuk tetap fokus pada diri sendiri dan membangun jati diri.

Meski ditonton ribuan orang, konser berlangsung tertib. Setelah acara selesai, mereka dengan rapi membubarkan diri. Prof Nugroho pun mengaku bangga. ’’Ternyata Anda sekalian adalah patriot-patriot merah putih sejati,’’ katanya. Ia juga menyampaikan bahwa Universitas yang dikenal dengan julukan Kampus Merah Putih itu akan selalu berbenah dengan meningkatkan kualitas mahasiswanya.

Konser perdana yang digelar di Untag Surabaya setelah pandemi Covid-19 itu juga dimeriahkan oleh kolaborasi unit kegiatan mahasiswa (UKM). Menampilkan koreo UKM kesenian dari teater, paduan suara, tari, hingga seni bela diri. Selain itu juga ada penampilan Skaturules Band dari UKM Musik yang menyumbangkan beberapa lagu. (*)

Kategori :