”Zero” oleh Teater Kaki Langit di Gedung Sawunggaling UNESA; Melawan Perusak Lingkungan

Jumat 16-09-2022,10:10 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Heti Palestina Yunani

Dalang tampil di depan panggung. Ia berpesan tentang pentingnya menjaga lingkungan demi kelangsungan kehidupan manusia. ”Antara manusia dan alam, manusia dengan mahluk lainnya harus hidup harmonis. Alam adalah tempat bernaung kita semua. Mari kita menjaganya bersama,” ujarnya. Disambut tepuk tangan riuh para pengunjung.
Adegan dalang yang bermain bersama anak-anak. Ia menasihati mereka agar senantiasa menjaga lingkungan.

Dalam pementasan yang mengutamakan tema lingkungan itu, Teater Kaki Langit menata interior gedung sejak pintu masuk pengunjung. Mereka memasang selambu plastik berwarna putih bertuliskan Zero Zone. Sehingga pengunjung yang masuk harus terlebih dulu menyibak selambu tersebut. 

Sepanjang jalan menuju tempat duduk terdapat beberapa kertas koran yang berceceran. Botol-botol plastik berayun menggantung, dipasang di atap. Mengesankan sampah plastik dan kertas yang menjadi problem utama lingkungan hidup.

”Kami berupaya mengajak penonton untuk ikut merasakan suasana pencemaran, sampah dan sebagainya. Ini masalah serius yang kita hadapi saat ini,” ungkap Imam Nur Kholis, sutradara.

Untuk membuat Zero sukses, proses adaptasi naskah dilakukan selama dua minggu. Berikut pemaparan gagasan dan sharing dengan para aktor. Menurut Imam, ia melakukan treatment pada para aktor untuk menjiwai peran yang dilakoni. Juga saat masuk tahap pemahaman naskah. ”Supaya mereka dapat memahami pesan yang disampaikan dalam naskah dan pementasan,” ungkap pria 24 tahun itu. 

Materi-materi tentang kerusakan lingkungan dimantapkan sutradara dengan memasukkan referensi dari sejumlah artikel di berbagai buku dan majalah. ”Namun alur adaptasi naskah tak banyak berubah dari bentuk aslinya kok. Hanya terdapat penambahan-penambahan,” paparnya.

Seperti unsur tradisi yang termuat dalam adegan anak-anak dan dalang yang sedang memainkan permainan tradisional. ”Kami ingin membangkitkan memori aktor dan pengunjung terhadap pengalaman masa kecil. Suasana lampau ketika manusia masih diliputi rasa sosial yang tinggi dan begitu dekat dengan alam sekitar,” katanya. 

Semua itu agar memberikan refleksi pada semua orang -terutama pelajar- untuk merenung tentang masalah lingkungan hidup. ”Jangan kepedulian anak-anak dan remaja berkurang. Jangan menjadi individualis karena dikuasai gadget,” harap mahasiswa UNESA asal Ponorogo itu.
Aktor dan tim produksi Zero berpose di panggung Gedung Sawunggaling UNESA. Mereka tampak puas setelah sukses memberikan tontonan kepada pecinta teater di Surabaya.

Ditambahkan pimpinan produksi pementasan Zero, Nuruul Izzah, Zero yang dipentaskan pada 10 September 2022 di Gedung Sawunggaling UNESA adalah aktualisasi dari program Sinau Akting yang digagas teater yang berlokasi di kawasan Lidah Wetan, Lakarsantri, Surabaya. 

Program pembelajaran teater yang berdiri sejak 1998 itu banyak menarik puluhan siswa-siswi dari berbagai sekolah di Surabaya dan Sidoarjo. Di antaranya dari siswa SMA Lab School UNESA, SMA Muhammadiyah 1 Taman, SMA Al-Hikmah, dan SMK Ketintang.

Nuruul berharap pementasan itu akan disusul dengan pentas-pentas lainnya. Sementara ini pementasan masih berlangsung di Gedung Sawunggaling UNESA. 

”Maklum sejak menjadi teater independen pada 2028, komunitas kami memang terus mempertahankan kerja sama dengan UNESA. Salah satunya dengan memanfaatkan Gedung Sawunggaling sebagai tempat pementasan karya-karya kami. Namun ke depan kami berencana pentas di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur. Semoga dapat terlaksana,” pungkasnya. (Isam)

Tags :
Kategori :

Terkait