Wayang Koran Bekas, Ecoprint, dan Puisi Bernuansa IWD 2026 dalam Mbangunredjo Art Festival

Wayang Koran Bekas, Ecoprint, dan Puisi Bernuansa IWD 2026 dalam Mbangunredjo Art Festival

MBANGUNREDJO ART FESTIVAL berlangsung 7-8 Maret 2026. Ragam atraksi seni disuguhkan di jalanan kampung dan pendopo.-R. Khansa Pandya Amorta-Harian Disway

International Women’s Day (IWD) menginspirasi performance art dalam rangkaian Mbangunredjo Art Festival pada 8 Maret 2026. Seni menjadi media untuk menyuarakan perjuangan hidup perempuan. Khususnya, di Kampung Dupak Bangunrejo.

JALANAN di Kampung Dupak Bangunrejo, tepatnya di area Pendopo Taman Baca Kelurahan Dupak, Kecamatan Krembangan, Surabaya menjelma panggung pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejumlah seniman mengolah ide dan menyuguhkannya menjadi atraksi yang menarik. 

Para penonton yang berjejer di tepi jalan terpaku pada performance art di depan mata mereka. Selain orang dewasa, tontonan itu juga menarik perhatian anak-anak. "Saya mau bikin itu juga," teriak beberapa anak setelah menonton penampilan Mukmin Ahmad.

Sore itu, Mukmin menjadikan kertas koran bekas sebagai media seni. Ia membagikan kertas kepada para penonton lalu mengajak mereka melinting koran. Atraksi Mukmin bertajuk Puzzle Merangkai Memori. Lintingan-lintingan koran itu lantas dirangkainya menjadi wayang.

BACA JUGA:Mengakar untuk Tumbuh, Mbangunredjo Art Festival Suguhkan Performance Art di Jalanan Kampung

BACA JUGA:Acara Puncak Mbangunredjo Art Festival 2025, Tampilkan Kirab Budaya, Wayang, dan Tari


MUKMIN AHMAD mengajak anak-anak Kampung Dupak Bangunrejo membuat wayang dari lintingan koran bekas pada Minggu, 8 Maret 2026.-R. Khansa Pandya Amorta-Harian Disway

"Dulu saya pernah membuat wayang dari batang singkong. Sekarang bisa pakai koran yang mudah didapat. Air liur adalah kunci agar gulungan kertasnya bisa menempel," ucap Mukmin sembari terus menyusun lintingan kertas koran.

Memang, performance art itu melibatkan materi dan benda-benda yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Lebih sederhana dan murah.

Kendati demikian, maknanya tetap mendalam. Terutama, untuk menghadirkan Kampung Dupak Bangunrejo sebagai bagian dari masyarakat, bukan sebagai kampung eks lokalisasi, label yang sulit dilunturkan.

"Penutupan lokalisasi tidak menyelesaikan persoalan. Sebab itu, warga tidak bisa tinggal diam. Performance Art Mengakar untuk Tumbuh ini adalah ajakan untuk membumi, harus mengakar pada pemikiran masyarakat,” ujar Abdoel Semute, pendiri Sanggar Seni Omah Ndhuwur.

BACA JUGA:Titimangsa Rilis Buku Antologi Naskah Monolog Di Tepi Sejarah, Hadirkan Happy Salma dan Ahda Imran

BACA JUGA:JIPTA 2025, Suara Perempuan Bergema Lewat Pementasan Monolog Tolong oleh Teater Gapus


ENNY ASRINAWATI (di atas kursi) menyuguhkan performance art bertajuk Kuasa Tubuh bersama tiga relawan lainnya.-R. Khansa Pandya Amorta-Harian Disway

Tentang eks lokalisasi, menurut Enny Asrinawati, korbannya lagi-lagi perempuan. Itulah yang dia sajikan lewat penampilannya dalam rangkaian Mbangunredjo Art Festival ke-13 pada Minggu. Performance-nya berjudul Kuasa Tubuh

Mula-mula, Enny menata dedaunan di atas kain putih yang dibentangkan di meja. Ia lalu menutupi seluruh permukaannya dengan plastik. Eni lantas meminta tiga relawan untuk membantu aksinya di hadapan penonton. Dia dan tiga relawan lalu memukul-mukul dedaunan tersebut. 

Enny kemudian naik ke atas kursi dan menari. Selang beberapa waktu kemudian, dia mengubah posisi kursi itu dan membuat transisi gerakan yang lainnya. Seperti jatuh, kemudian bangun, lalu menaiki kursi kembali. 

Sesekali, Enny memamerkan wajah sedih, lalu tak lama kemudian dia menghadirkan ekspresi marah-marah. "Braakk!" Suara itu terdengar seiring patahnya kursi. Kursi yang patah itu kemudian terserak.

BACA JUGA:Jeritan Kampung Dupak Bangunrejo Lewat Drama Monolog Sangkan Paran: Jantung Tanpa Hati

BACA JUGA:Teater Tahunan Basasing Unair ENITE 2025 Persembahkan Second Out, Drama Aksi Komedi Angkat Tema Keluarga


FATIMATUS ZAHRO berpuisi dengan tema perempuan. Dia menyuarakan keresahan perempuan bertepatan dengan International Women's Day 8 Maret 2026.-R. Khansa Pandya Amorta-Harian Disway

"Itu simbol jatuh bangunnya perjuangan mempertahankan kuasa diri. Ketika jatuh, ya bangun lagi. Kita harus berdiri di atas kaki sendiri tanpa melupakan jati diri dan tanpa merendahkan diri," jelas Enny yang juga owner rumah produksi ecoprint, d’Tangkai, tersebut.

Dia lalu turun dari kursi, kemudian mengangkat dan menunjukkan kain hasil ecoprint yang dibuat tiga relawan perempuan. Di sana tersirat pesan bagi para perempuan yang sedang berjuang dalam kehidupan.

"Kita tahu kalau lingkungan kampung ini diliputi stigma masa lalu yang kurang bagus. Melalui penampilan tadi, saya ingin menyampaikan bahwa sebenarnya perempuan memiliki banyak jalan untuk berdaya. Kita tidak harus menempuh jalan instan (negatif)," terangnya.

Penampil berikutnya, Fatimatus Zahro, membacakan puisi di pendopo. Judul puisinya, Wanita Bidadari Surga, Kecantikan Abadi, dan Menjadi Ibu.

BACA JUGA:JIPTA 2025, Suara Perempuan Bergema Lewat Pementasan Monolog Tolong oleh Teater Gapus

BACA JUGA:Aksi Kamisan Surabaya 900: Nyali dan Konsistensi dalam Kasih Sayang Ibu


PERFORMANCE ART di jalanan Kampung Dupak Bangunrejo menarik perhatian anak-anak dan pengunjung pada Minggu, 8 Maret 2026.-R. Khansa Pandya Amorta-Harian Disway

"Begitu manis, begitu gurih, begitu mempesona, begitu indah, dan begitu memabukkan. Itulah karya cipta Sang Esa,” kata Fatimatus kepada Harian Disway setelah pementasan. Puisi itu membawa pesan serius tentang pentingnya inner beauty dalam jati diri perempuan. 

Kecantikan abadi didapat dari cara merawat sukma dan raga. Caranya adalah dengan menjaga martabat, taat, beradab, serta bertutur kata santun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: