Sanggar Lidi Surabaya dan Orasi Budaya Zawawi Imron (2); Angkat Kisah Mahmoud Syaltout dan Gayatri

Sabtu 22-10-2022,16:41 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Heti Palestina Yunani

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Diadaptasi dari buku Gayatri Rajapatni karya Earl Drake, Sanggar Lidi Surabaya mementaskan pertunjukan teater berjudul Gayatri, pada Kamis, 20 Oktober 2022. Sebelum digelar, orasi budaya penyair D Zawawi Imron disampaikan hingga menggugah semangat.

Penyair sepuh dari Pulau Madura itu berjalan tertatih dengan tongkat di tangan. Semangatnya masih membara meski usia telah senja. Pakaiannya rapi. Dengan atasan putih dengan bawahan hitam. Peci menghiasi kepalanya. Ia penyair karismatik D Zawawi Imron, sang Celurit Emas.

Di atas panggung gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Zawawi tersenyum sebelum memulai orasi budaya. ”Sanggar Lidi. Lidi kalau cuma satu akan mudah dipatahkan. Kalau berjumlah banyak, sulit patah. Memaknai persatuan. Memaknai kebersamaan antara kita semua,” ujarnya.

Untuk menguraikan orasi budayanya, ia berkisah tentang peristiwa pertemuan antara Bung Karno dan Rektor Al Azhar, Mesir, Profesor Mahmoud Syaltout. Kedua tokoh besar itu bertemu pada 1964. Dalam ajang pertemuan tokoh-tokoh Islam Asia-Afrika di Indonesia.
Penyair karismatik D Zawawi Imron, sang Celurit Emas yang menyampaikan orasi budaya.--

Prof Syaltout berkeliling ke berbagai daerah dan terkagum-kagum. ”Beliau melihat gunung biru berselendang awan. Sawah menguning dengan cericit burung beterbangan di langit. Pantai-pantai yang indah dengan nyiur kelapa melambai,” ungkapnya puitik.

Di negara Mesir, tanah asal Prof Syaltout, kontur wilayahnya didominasi lahan gersang. Sebanyak 75 persen. Beberapa daerah subur hanya ada di sekitaran lembah Sungai Nil. 

Ia begitu terpesona dengan suasana alam Indonesia. ”Bahkan Prof Syaltout berkata pada Bung Karno. Kata-kata puitis yang sering dipakai oleh para penyair untuk menggambarkan keindahan alam Nusantara. Ia bilang bahwa Indonesia adalah potongan surga yang diturunkan Allah di bumi,” ujar penyair kelahiran Sumenep, 1 Januari 1945 itu.

”Beberapa tahun kemudian, ada penyanyi yang menulis lirik: Orang bilang tanah kita tanah surga,” tambahnya. Penyanyi yang dimaksud adalah grup band Koes Plus, dengan lagunya berjudul Kolam Susu.
Semua pemeran pementasan Gayatri oleh Sanggar Lidi Surabaya foto bersama usai tampil di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur.--

Lebih lanjut, Dewan Pengasuh Pesantren Ilmu Giri, Yogyakarta, itu menyebutkan bahwa jika Indonesia dilihat dari sudut budaya, maka Indonesia adalah negara nomor 1. Terindah di dunia. Dengan kekayaan budaya serta keindahan alam yang menawan.

”Siapa yang mencintai Indonesia, maka harus menanaminya dengan benih-benih persaudaraan, persahabatan. Kita sejatinya adalah saudara meski berbeda suku bangsa dan agama,” ujarnya. 

Ia mengibaratkan Indonesia adalah sajadah bagi semua orang, tempat manusia berhatur sembah dan hidup di bawah naungan Tuhan.

Penyair penerima bintang jasa kebudayaan dalam acara Kongres Kebudayaan Indonesia itu menutup orasi budayanya dengan kalimat manis. ”Jejakku kutinggal di sini. Tetapi senyummu kubawa pergi.”
Pementasan Gayatri yang diadaptasi dari buku Gayatri Rajapatni karya Earl Drake. Tentang sosok pemimpin perempuan yang dekat dengan rakyat. Pemimpin politik yang turut membawa kemudi Majapahit ke arah era keemasan.--

Tepuk tangan pengunjung membahana, memenuhi seluruh ruangan gedung Cak Durasim. Setelah pidato budaya Zawawi, Sanggar Lidi Surabaya mementaskan Gayatri. Diadaptasi dari buku Gayatri Rajapatni karya Earl Drake. ”Tentang sosok pemimpin perempuan yang dekat dengan rakyat. Pemimpin politik yang turut membawa kemudi Majapahit ke arah era keemasan,” ujar Totenk MT, pembina Sanggar Lidi Surabaya sekaligus penulis naskah.

Adegan awal dibuka dengan bunyi komposisi orkestra bertalu-talu. Antara biola, gitar, bass serta perkusi. Sorot lampu panggung menyala, mengarah pada sosok perempuan berselendang merah. Bersimpuh, dengan tangan terkatup. Seperti sedang bermeditasi. 

Seorang laki-laki berpakaian kerajaan, bermahkota, berdiri tegak di tengah, di belakang perempuan itu. Di hadapannya dua orang perempuan berhatur sembah. Di sisi kiri dan kanan adalah prajurit. Suara terompet muncul. Melengking parau, seperti suara gajah. Dua perempuan itu bangkit lantas menari.

Tags :
Kategori :

Terkait