Komentar Komunitas Hobby Nonton untuk Film Horor Barbarian

Minggu 06-11-2022,07:00 WIB
Editor : Retna christa

Me Too Versi Horor

SAYA menyebut Barbarian adalah bagian dari kampanye gerakan #MeToo versi horor. Gerakan #MeToo dimulai pada 2017. Berangkat dari kasus pelecehan seksual yang dilakukan produser Harvey Weinstein, yang memicu puluhan aktor lain berbicara soal kekerasan dan pelecehan oleh sineas yang lebih berkuasa.

Banyak film sudah dihasilkan menyambut gerakan ini. Yang terbaru adalah Barbarian dengan kemasan horor-misteri. Sutradara Zach Creggef tampak membagi apa yang ingin disampaikan dengan sangat jelas. Pada 20 menit pertama, ia dengan jelas membahas pentingnya bagi perempuan selalu waspada. Agar terhindar dari pelecehan. Mulai dari yang kasar, jebakan, sampai yang halus.

Menonton Barbarian rasanya bukan hanya seperti naik roller coaster. Tapi seperti didorong di wahana bungee jumping. Dengan seenaknya, Zach Creggef memotong adegan gelap dengan ketegangan yang memuncak, menjadi suasana ceria dan full color. Itu dilakukannya beberapa kali. Tampaknya ia benar-benar ingin berkomedi di film horor.

Meski menyebalkan, pada akhirnya tiap bab memberikan perannya bagi keseluruhan film. Muatan #MeToo juga tampak sangat jelas pada tiap bab. Barbarian ingin menyampaikan perlawanan terhadap pelecehan dan kekerasan seksual di dunia kerja harusnya dilakukan sejak lama.

Bahkan nama Ronald Reagan disebut-sebut saat adegan flashback. Presiden AS pada akhir 80-an itu diketahui mempunyai petualangan dengan banyak gadis saat masih menjadi aktor. Dan sekarang, diam dan pembiaran telah melahirkan momok bagi para pelaku dalam sosok The Mother. Mau para mother dan calon mother jadi seperti itu?

Nico Tan,
freelancer

Proyek Iseng yang Sukses

SEPERTINYA, film ini akan menjadi awal karier terbaik Zach Cregger sebagai sutradara. Ia benar-benar beruntung. Ia tak menyangka film ini menjadi sangat populer. Awalnya, ia hanya iseng belajar menulis sebuah cerita pendek tentang buku yang baru dibacanya: The Gift of Fear. Buku nonfiksi karangan Gavin de Becker yang menceritakan tentang intuisi perempuan dalam menghadapi laki-laki berbahaya.

Setelah selesai menulis, ia merasa dirinya berbakat. Cregger mulai pede membuat konsep cerita yang lebih luas, lengkap karakternya, untuk sebuah film panjang.  

Hasilnya adalah sebuah film yang komplet. Tak hanya horor yang menegangkan, tapi juga ada drama dengan dark comedy yang satir. Cregger sendiri menyebut filmnya seperti perpaduan antara film David Fincher di lantai atas rumah yang penuh drama misteri yang mencekam. Serta film Sam Raimi di bawah rumah yang penuh adegan horor dan gore yang mengerikan.

Film ini terbagi menjadi empat subplot. Sehingga seperti omnibus empat film pendek. Dialog drama di babak pertama, jika Anda jeli, sungguh sangat brilian. Anda tak akan sadar bahwa banyak hal yang seharusnya tak terjadi jika sang tokoh utama mau menyadarinya. Dan setiap scene seakan sebuah parodi film horor tapi serius. Anda akan menutup mata melihat ketegangan, tapi sambil mengumpat betapa bodohnya semua itu. Dan itu sangat lucu.

Yang menarik lagi adalah judul Barbarian. Kata itu berarti orang yang brutal dan kejam, biadab, dan tidak beradab. Tapi di film ini juga menunjukkan kumpulan orang. Barbarian disini berarti juga orang-orang yang tinggal di jalan Barbary. Bahkan nomor rumah yang menjadi setting film ini 476 Barbary St. Itu adalah angka tahun Masehi tepat saat kaum Barbarian menyerang kerajaan Romawi.

Awik Latu Lisan,
penikmat film
 




Kategori :