Kunjungan 31 Jurnalis Lintas Benua di Taiwan: Wartawan Ukraina, We Will Win (6)

Sabtu 26-11-2022,18:00 WIB
Reporter : Salman Muhiddin
Editor : Salman Muhiddin

Satu dari 31 jurnalis yang diundang Taiwan berasal dari Ukraina. Dia adalah Pemimpin Redaksi espreso.tv Anastasiya Ravva. Semua delegasi tahu bahwa Taiwan bisa bernasib sama dengan Ukraina: diinvasi.

SAYA mendekati Anastasiya begitu tahu bahwa dia dari Ukraina. Saya sampaikan keprihatinan atas apa yang terjadi selama 9 bulan terakhir. ”Aku akan kembali ke Lviv setelah ini,” ujar perempuan tangguh itu.

Saya juga menceritakan bahwa Harian Disway sudah dua kali membuat tulisan bersambung terkait Ukraina. Semua berkat bantuan wartawan berkebangsaan Belanda kelahiran Indonesia Bud Wichers. Ia menjadi kontributor Disway yang berhasil menembus Ukraina dua kali.


Bud Wichers berlindung di parit bersama prajurit Ukraina di perbatasan Belarusia, Kamis, 30 Juni 2022.-Bud Wichers/Harian Disway-

Budi, panggilan akrabnya, juga pernah menetap di Lviv saat invasi meledak Februari lalu. Ia merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai orang Ukraina yang setiap hari harus mendengar sirene tanda roket mendekat.

Fotografer lepas itu juga berhasil merangsek ke perbatasan timur yang sudah dikuasai Rusia. Juga, ke Odessa di kawasan pantai selatan. Budi juga mengetahui bagaimana kehancuran kawasan ibu kota di Kiev, tempat tinggal Anastasiya.

Kini kondisi Ukraina makin kacau. Krisis listrik, air, dan makanan. Hidup makin sulit di sana.

Banyak orang Indonesia yang mengutuk serangan Rusia itu. Kita sama-sama berasal dari negara demokrasi. Dan Ukraina akan memperjuangkan itu sampai titik darah penghabisan.

Anastasiya meletakkan tangan di dadanya. Dia berterima kasih atas dukungan itu. Dia juga sangat yakin bahwa Ukraina bakal memenangkan peperangan itu. ” We will win. For sure (Kami akan menang. Itu tentu, Red),” tegas perempuan asal Kiev tersebut.


BOS MACRONIX Miin Wu berfoto dengan Anastasiya Ravva, Pemred Espresso.tv Ukraina-Salman Muhiddin/Harian Disway-

Hubungan Taiwan dan Ukraina begitu rekat. Mereka sama-sama memperjuangkan demokrasi dari dua kekuatan komunis terbesar dunia. 

Ukraina menghadapi Rusia. Sedangkan Taiwan menghadapi raksasa lainnya: Tiongkok. Oktober lalu seorang prajurit sukarelawan Taiwan tewas di medan pertempuran. 

Prajurit itu bernama Tseng Sheng-kuang. Ia gugur karena kehabisan darah setelah bertempur di Kota Luhansk. Tseng Sheng-kuang kini menjadi pahlawan bagi Ukraina dan Taiwan.

Anastasiya berterima kasih kepada Taiwan saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu. Taiwan sudah sangat membantu. Baik logistik hingga pasukan tempur sukarela. ”Kemuliaan untuk Ukraina,” kata Wu setelah tahu ada wartawan Ukraina di antara 31 jurnalis lintas benua itu.


WARTAWAN FILIPINA Daphne Galvez membaca Taipe Times tentang pertemuan Presiden Amerika Joe Biden dan Presiden Tiongkok Xi Jinping terkait Taiwan di G20..-Salman Muhiddin/Harian Disway-

Wu mengatakan bahwa Taiwan akan memberikan bantuan keuangan sebesar 56 juta dolar AS ke Ukraina tahun depan. Itu setara dengan Rp 879 miliar. Sebelumnya Taiwan mengirim bantuan kemanusiaan lebih dari 30 juta dolar AS.

Sang Menlu mengatakan bahwa Taiwan memang selalu siap dengan berbagai kemungkinan. Mereka bisa mengalami invasi yang dialami Ukraina. Karena itulah mereka sigap membangu negara itu.

Taiwan sama dengan Ukraina. Sama-sama teman Amerika. Jika Tiongkok benar-benar menginvasi mereka, tentu Taiwan juga berharap dukungan negara sekutunya itu. Namun tak ada yang mengharapkan itu terjadi.

”Dampaknya bagi dunia bisa mengerikan,” ujar Wu. Perekonomian dunia bisa lumpuh. Taiwan memegang peran penting dalam perdagangan dunia.

Pulau Formosa, yang menjadi pulau utama Taiwan, berada di Samudra Pasifik. Jalur perdagangan di kawasan itu bisa mandek jika terjadi perang di sana.

Anda tentu sudah tahu bahwa Taiwan adalah rantai terbesar dalam perdagangan mikrocip dunia. Sebesar 63 persen pasar global cip semikonduktor ada di sana. Sebanyak 90 persen cip dengan teknologi advance atau yang berukuran 5 nano milimeter (nm) cuma diproduksi di Taiwan. 


Semikonduktor yang dipajang di galeri Macronix Taiwan.-Salman Muhiddin/Harian Disway-

Ketika pasokan mikrocip terputus, industri smartphone , komputer, mobil, dan barang lain yang memiliki komponen elektronik bakal terimbas.

Pengamat militer dunia, Connie Rahakundini Bakrie, mengatakan bahwa kerugian akibat perang di Taiwan bisa lebih mengerikan ketimbang di Ukraina. 

Saat Rusia menyerang Ukraina, ada USD 1,7 triliun GDP yang macet. ”Kalau jadi perang dengan Taiwan, itu yang GDP yang terdampak bisa sampai USD 13 triliun,” ujar Connie dalam perbincangan dengan Helmy Yahya dan Mardigu Wowiek di R66 Newlitics 12 Oktober lalu. (Salman Muhiddin)

 

Jurnalis Latvia Marah . BACA EDISI SENIN!

Kategori :