Tamsil Kisah Adam, Politik Dinasti, dan Etika Berkontestasi

Senin 26-08-2024,08:01 WIB
Oleh: Biyanto*

Modus politik dinasti juga dilakukan penguasa dengan menempatkan orang-orang kepercayaan untuk menduduki posisi penting di pemerintahan. Mereka umumnya orang yang sangat berjasa dan berkeringat selama proses pencalonan hingga pemenangan sang penguasa. 

Mereka bisa jadi karena pernah menjadi tim sukses, penyandang dana, pendulang suara (vote getter), atau relawan politik. Yang juga sangat berjasa tentu adalah elite partai. Mereka yang menyediakan kendaraan politik bagi calon penguasa.

Politik dinasti jelas bertentangan dengan budaya demokrasi yang sedang tumbuh di negeri tercinta. Hal itu karena politik dinasti cenderung mengabaikan kompetensi, integritas, dan rekam jejak. Bahkan, politik dinasti bisa mengebiri peran masyarakat dalam menentukan pemimpin di daerahnya. Ironisnya, politik dinasti sengaja dibingkai dalam konteks demokrasi. 

Dalam alam demokrasi prosedural, masyarakat seakan diberikan peran. Tetapi, jika diamati, sejatinya masyarakat tidak memiliki kebebasan menentukan pilihan. Calon-calon yang dimajukan dalam setiap pesta demokrasi, baik dalam skala nasional maupun lokal, sudah dipersiapkan sedemikian rupa. 

Bahkan, pemenang kontestasi selalu diusahakan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan elite penguasa. Penting diingat, pemilihan kepemimpinan yang diwarnai dengan praktik politik dinasti pada saatnya akan membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.  

TAMSIL KISAH ADAM 

Perumpamaan (tamsil) mengenai betapa bahaya politik dinasti diilustrasikan melalui kisah terusirnya Adam dan Hawa dari surga. Pertanyaannya, mengapa keduanya terusir dari surga yang penuh kenikmatan? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah Adam dan Hawa tergoda bujuk rayu setan. Sejak lama setan memendam kedengkian kepada Adam. 

Setan pun berusaha mencari jalan untuk menggelincirkan Adam. Setan lantas menemukan cara dengan merayu agar Adam dan Hawa makan buah dari pohon keabadian (syajarah al-khuldi). Menurut bisikan jahat setan, jika mau makan buah khuldi, Adam dan Hawa akan merasakan kenikmatan surga dalam waktu yang sangat lama. Keduanya memperoleh kekuasaan yang tidak pernah binasa.

Singkat kisah, Adam dan Hawa akhirnya benar-benar tergoda bujuk rayu setan. Keduanya lantas memakan buah dari pohon keabadian. Akibatnya, keduanya harus menerima kenyataan terusir dari surga (Q.S. Thaha: 120-121). Pertanyaannya, pelajaran apa yang dapat dipetik dari perumpamaan (tamsil) kisah pengusiran Adam dan Hawa dari surga? 

Setidaknya ada dua pelajaran penting yang dapat diambil. Pertama, umumnya manusia sangat mudah tergoda kekuasaan yang dipersepsi dapat membawa kenikmatan hidup di dunia secara instan. Orang yang memiliki syahwat politik tinggi pasti akan selalu berpikir untuk menikmati kekuasaan di dunia dalam waktu yang sangat lama. 

Virus hidup serbainstan itu juga menjalar ke anak-anak muda. Banyak anak muda yang enggan menjalani kehidupan dengan berpeluh keringat. Mereka ingin terkenal dan hidup bergelimang kekayaan dengan cepat. Caranya adalah masuk dunia politik atau dekat dengan kekuasaan.

Kedua, selalu ada kecenderungan penguasa mempertahankan kekuasaannya. Sebab, untuk memperoleh kekuasaan, seseorang harus berjuang hingga titik keringat terakhir. Jika karena perundang-undangan kekuasaan harus berpindah tangan, selalu diusahakan agar kekuasaan jatuh kepada istri, anak, menantu, kerabat, dan teman dekatnya. 

Selain bertujuan kekuasaan tidak berpindah tangan, strategi mencalonkan orang-orang terdekat dalam pemilu juga untuk menjamin dirinya selamat dari persoalan hukum setelah tidak berkuasa. 

ETIKA BERKONTESTASI

Jelas tidak ada larangan bagi seseorang untuk berkontestasi dalam perebutan kekuasaan. Apalagi, itu dilakukan melalui mekanisme demokrasi. Bahkan, secara jujur harus diakui bahwa demokrasi di negeri ini diselamatkan oleh mereka yang mencalonkan diri dalam pemilihan presiden, pemilihan anggota legislatif, dan pilkada. 

Namun, penting diingatkan agar mereka yang running dalam perebutan kekuasaan senantiasa berpegang pada etika. Pesan tersebut penting karena, meminjam istilah Profesor Jimly Asshiddiqie, semua jabatan publik yang dikompetisikan secara bebas dan terbuka cenderung digunakan sebagai ajang mencari kekuasaan. 

Kategori :