BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (12): Ramadan dan Ingatan Nareswari
Ibarat salat, kota itu mempunyai imam dan kita sedang salat bersama dalam “masjid besar” Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Bagaimanakah cara mengingatkan sang imam dan maukah ia membuka diri untuk melakukan penyelamatan dengan “mengembalikan niatnya” sesuai dengan spirit berdirinya?
Percayalah, penghilangan “nama-nama tetengernya” merupakan sebuah pertanda bahwa sebuah kota sewaktu-waktu akan tersengal. Ramadan ini harus menjadi tonggak penerungan untuk mencari kembali jatidiri Surabaya. Barakallah. (*)
*) Guru Besar Fakultas Hukum dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga , Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup-SDA MUI Jatim, dan Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur