Tak Sahur tapi Tetap Puasa? Begini Dampaknya bagi Kesehatan

Tak Sahur tapi Tetap Puasa? Begini Dampaknya bagi Kesehatan

Efek dari tidak sahur saat puasa? begini penjelasan singkatnya.-Nes-iStockphoto.com

HARIAN DISWAY - Saat puasa tidak semua orang sempat bangun untuk makan sahur. Ada yang ketiduran, ada pula yang sengaja melewatkannya dengan alasan masih kuat berpuasa tanpa perlu makan pada dini hari.

Memang, tanpa sahur pun sebagian orang tetap bisa menahan lapar dan haus hingga magrib. Namun, benarkah puasa tanpa sahur aman bagi tubuh?

Secara medis, sahur bukan sekadar formalitas sebelum azan subuh. Asupan makanan dan cairan di waktu sahur berperan penting menjaga kadar gula darah tetap stabil, mencegah dehidrasi, serta membantu tubuh mempertahankan energi sepanjang hari.

Tanpa sahur, risiko lemas, pusing, sulit fokus, bahkan gangguan lambung bisa meningkat terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas padat.

BACA JUGA:Bolehkah Makan Sahur setelah Imsak? Ini Penjelasan Lengkapnya!

BACA JUGA:Minuman Isotonik Saat Sahur, Aman atau Justru Bikin Cepat Haus? Ini Faktanya


MAKAN SAHUR sebaiknya tidak diabaikan supaya tubuh tidak lemas. -mgstudyo-iStockphoto.com

Karena itu, persoalannya bukan sekadar kuat atau tidak menahan lapar. Tubuh bekerja dengan ritme dan cadangan energi yang terbatas.

Jika makan saat sahur dilewatkan, cadangan tersebut otomatis lebih cepat terkuras. Di sinilah berbagai dampak kesehatan mulai muncul pelan tapi pasti terutama jika kebiasaan ini dilakukan berulang selama Ramadan.

1. Gula darah lebih cepat turun (hipoglikemia ringan)

Tanpa asupan sahur, tubuh tidak memiliki cadangan glukosa yang cukup untuk bertahan sejak dini hari hingga magrib. Akibatnya, gula darah bisa turun lebih cepat.

Gejalanya meliputi lemas, gemetar, pusing, sulit fokus, hingga mudah marah. Pada sebagian orang, kondisi ini bisa mengganggu produktivitas kerja atau belajar.

BACA JUGA:5 Menu Sahur Aman Bagi Lambung, Cegah Asam Lambung Kambuh

BACA JUGA:5 Menu Sahur Lezat dan Bergizi agar Puasa Lebih Berenergi


MAKAN SAHUR menjadi energi untuk menjalani puasa hari itu. -mgstudyo-iStockphoto.com

2. Risiko dehidrasi meningkat

Sahur bukan hanya soal makan, tetapi juga momen penting memenuhi kebutuhan cairan. Jika tidak sahur, tubuh kehilangan kesempatan terakhir untuk menyimpan cairan sebelum berpuasa.

Terlebih jika aktivitas padat atau cuaca panas. Risiko dehidrasi ditandai dengan mulut kering, sakit kepala, dan urin berwarna pekat menjadi lebih besar.

3. Asam lambung lebih mudah naik

Perut yang kosong lebih lama dapat memicu produksi asam lambung berlebih pada sebagian orang, terutama yang memiliki riwayat maag.

Tanpa sahur, jeda kosong lambung menjadi semakin panjang. Dampaknya bisa berupa perih di ulu hati, mual, hingga sensasi terbakar di dada.

BACA JUGA:6 Tip Menjaga Daya Tahan Tubuh Saat Peralihan Cuaca, Tetap Fit Meski Musim Berganti

BACA JUGA:Tips Menjaga Imunitas saat Musim Hujan dengan Vitamin dan Nutrisi Tepat

4. Konsentrasi dan daya tahan tubuh menurun

Energi yang terbatas membuat tubuh bekerja lebih keras. Akibatnya, fokus dan konsentrasi bisa menurun, terutama pada siang hingga sore hari.

Jika terjadi terus-menerus, tubuh juga bisa terasa lebih mudah lelah dan kurang bertenaga.

5. Pola makan saat berbuka cenderung tidak terkontrol

Karena rasa lapar yang lebih ekstrem, seseorang yang tidak sahur cenderung “balas dendam” saat berbuka. Makan terlalu cepat dan berlebihan bisa memicu gangguan pencernaan serta lonjakan gula darah secara tiba-tiba.

Maka dari itu melewatkannya sekali mungkin tidak langsung menimbulkan masalah besar. Namun, jika menjadi kebiasaan, dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu (*)

 

*) Mahasiswa Magang dari Prodi Ilmu Komunikasi, UNTAG.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: diolah dari berbagai sumber