Tumbuh dan besar di keluarga yang bekerja di bidang kesehatan. Pengalaman itu jadi panggilan bagi Bening Tilu untuk menjadi seorang dokter. Kini, ia mengambil peluang untuk menempuh prodi MBBS di Hubei Polytechnic University lewat ITCC.
Siang itu, tepat 20 Agustus 2025, langit di Jalan Ahmad Yani Nomor 88 Surabaya berubah menjadi kelabu. Awan mendung bergerak mendekati bagian atap Gedung Graha Pena Surabaya, lokasi Indonesia Tionghoa Cultural Centre (ITCC).
Bunyi ketukan langkah kaki para pekerja yang berseragam rapi bisa terdengar di dalam gedung itu. Lokasi kantor ITCC ada di lantai 14.
BACA JUGA:Para Penerima Beasiswa ITCC ke Tiongkok (1): Wujudkan Cita-Cita Ibu
Anda sudah tahu, ITCC adalah yayasan pendidikan Bahasa Mandarin pertama di Surabaya. Didirikan oleh Dahlan Iskan sejak 2001.
Salah satu program pendidikan yang dimiliki oleh ITCC adalah pendidikan beasiswa ke Tiongkok dan Taiwan. Salah seorang siswa ITCC yang berprestasi adalah Bening Tilu. Dari penampilannya, dia terlihat begitu sederhana.
Hari itu, Bening mengenakan blouse cokelat yang serasi dengan kerudungnya. Bening mulai menceritakan tekadnya menjadi seorang dokter di masa depan. Dia terlahir di keluarga yang berkecimpung di dunia kesehatan.
Bening Tilu saat mengikuti kelas Bahasa Mandarin di ITCC.-Subastian Salim-HARIAN DISWAY
BACA JUGA:Para Penerima Beasiswa ITCC ke Tiongkok (2): Pantang Pulang Sebelum Berhasil
Ayahnya adalah seorang perawat yang bekerja di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta. Sementara ibunya adalah seorang bidan yang membuka klinik bersalin di rumahnya sendiri.
Klinik bersalin yang ada di rumah Bening di Jakarta itu tidak hanya menerima pasien ibu hamil atau melahirkan. Tetapi juga melayani kesehatan ibu dan anak.
Bening sering melihat ibunya menangani pasien dan mendengarkan keluh kesah mereka. Hingga suatu ketika, ada sebuah peristiwa di klinik itu yang menumbuhkan tekadnya untuk menjadi seorang dokter.
BACA JUGA:Para Penerima Beasiswa ITCC ke Tiongkok (3): Sempat Tolak Kuliah di Taiwan
“Suatu siang, datang pasien ke klinik mama. Pasien itu hendak melahirkan. Dia ditemani suaminya. Ketika diperiksa, ketubannya sudah berwarna hijau. Tekanan darahnya tinggi,” ujar Bening.
“Akhirnya mama saya memberi rujukan agar pasien itu mendapatkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit. Namun, pasien ibu dan anak itu meninggal dunia sewaktu ditangani di rumah sakit. Saya merasa sedih. Saya tidak bisa membantu apa-apa. Itulah yang membuat saya akhirnya ingin menjadi dokter,” lanjutnya.