HARIAN DISWAY - Jalanan Surabaya ditata dengan hati. Di sepanjang Jalan Dharmawangsa hingga Jalan Semarang, petugas gabungan Pemkot turun tangan menindak Pedagang Kaki Lima (PKL), parkir liar, dan pelanggar saluran air, Jumat, 28 November 2025.
Tim itu terdiri dari Satpol PP, Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP).
Bukan untuk menghukum, melainkan mengajak. Mereka aajak edagang kaki lima turun dari trotoar, mengajak sopir truk tak memakan badan jalan, mengajak warga berhenti membuang sampah ke selokan.
Di sekitar RSUD Dr. Soetomo hingga Traffic Light Kertajaya, trotoar yang seharusnya menjadi jalur aman bagi pejalan kaki, lansia, dan difabel dijumpai dipenuhi lapak PKL dan kursi kayu.
Alih-alih menyita atau membentak, petugas justru turun tangan membantu. Mereka mengangkat dagangan, memindahkan meja, lalu duduk sebentar dan mengatakan trotoar ini bukan milik siapa-siapa. Itu milik bersama.
"Kami lakukan dengan humanis. Petugas juga turut membantu memindahkan barang milik pedagang agar tidak berjualan di atas trotoar," ujar Kepala Satpol PP Kota Surabaya Achmad Zaini, Sabtu, 29 November 2025.
BACA JUGA:Pemkot Surabaya Beri Reward bagi Warga yang Laporkan Pencuri Kabel PJU
BACA JUGA:Pemkot Surabaya Butuh Investasi Rp11 Triliun untuk Penuhi Target
Dua spanduk dan lima kursi kayu diamankan. Bukan sebagai bukti pelanggaran, tapi sebagai pengingat bahwa trotoar bukan tempat usaha, melainkan moda pejalan kaki yang tak seharusnya dijadikan lapak usaha.
Di Jalan Semarang, tantangan lain muncul. Truk angkutan besar yang parkir seenaknya di bahu jalan. Saat jam sibuk, satu truk saja bisa menahan puluhan kendaraan di belakangnya.
Petugas tak serta-merta menilang. Mereka mendatangi pemilik usaha, berbicara langsung. "Banyak aduan masyarakat soal kemacetan akibat parkir truk yang memakan badan jalan," beber Zaini.
Pesan itu disampaikan dengan tegas, tapi tetap menghargai. Karena yang dikejar adalah perubahan perilaku masyarakat.
Sementara itu, di balik keriuhan trotoar dan jalan raya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga bekerja. Mereka membersihkan saluran air dari tumpukan plastik, daun kering, dan sampah dapur yang mengendap.
"Kalau hujan deras, ini bisa jadi banjir,” kata seorang petugas sambil mengangkat karung berisi sampah. Kami juga mengimbau masyarakat jangan buang sampah ke selokan. Air butuh jalan, seperti kita," imbuh Zaini.
BACA JUGA:Pemkot Surabaya Rehabilitasi 15 Siswa SMP Positif Narkoba dan Perketat Pengawasan di Jalan Kunti