Wajib Belajar 13 Tahun, Mengapa Tidak?

Sabtu 29-11-2025,22:26 WIB
Oleh: Bahrus Surur-Iyunk*

Dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia (SDM), wajib belajar 13 tahun juga membantu menyiapkan SDM siap kerja dan berdaya saing. Pendidikan menengah memberikan pengetahuan dasar dan keterampilan praktis (terutama melalui SMK) yang relevan dengan dunia kerja. 

Dalam perspektif ke depan, hal itu akan meningkatkan peluang kerja formal dan menekan angka pengangguran usia muda, menumbuhkan wirausaha muda karena remaja memiliki bekal literasi keuangan dan keterampilan hidup, dan mengurangi beban ekonomi keluarga dalam jangka panjang karena anak memiliki peluang pendapatan yang lebih tinggi.

Secara psikologis, wajib belajar 13 tahun akan membangun jati diri dan kesehatan mental remaja. Sebab, masa remaja adalah fase pembentukan identitas diri. 

Tentu saja, lingkungan sekolah menjadi ruang yang aman dan kondusif dalam menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian; mengembangkan kecerdasan emosional, empati, dan toleransi; mengurangi tekanan mental akibat keterasingan sosial atau stigma sebagai ”lulusan putus sekolah”. 

Sampai di sini, remaja yang bersekolah lebih lama cenderung memiliki kontrol diri lebih baik, pola pikir yang lebih matang, dan ketahanan menghadapi tekanan hidup. 

Lingkungan pendidikan yang suportif juga berperan penting dalam mengurangi risiko gangguan psikologis seperti kecemasan sosial dan depresi (APA, Adolescent Mental Health, 2021)

Dalam perspektif keagamaan, wajib belajar 13 tahun juga akan ikut menguatkan nilai-nilai moral dan spiritualitas. 

Bagaimana tidak, sekolah, terutama yang berbasis karakter dan keagamaan, menjadi media strategis untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan etika universal seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab; semangat beragama yang inklusif, terbuka terhadap perbedaan, dan jauh dari fanatisme sempit. 

Kesadaran beribadah akan tumbuh secara matang karena dibimbing dalam suasana kolektif sekolah. Program keagamaan seperti pendidikan agama, mentoring rohani, dan pembinaan karakter dapat dilakukan lebih efektif jika siswa tetap berada dalam lingkungan pendidikan hingga usia dewasa muda.

Dalam kajian pendidikan multikultural, wajib belajar 13 tahun juga akan meningkatkan toleransi dan pluralisme. Remaja yang berada di bangku sekolah lebih lama memiliki lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan teman dari suku, agama, ras, dan latar belakang berbeda. 

Tentu saja itu akan menumbuhkan sikap toleran dan saling menghormati dalam kehidupan berbangsa; mendorong dialog antarumat beragama dan antarbudaya sejak usia muda; mencegah radikalisme dan intoleransi di kalangan remaja yang tidak tersentuh pendidikan formal.

Dari sisi ketahanan keluarga dan komunitas, remaja yang tetap bersekolah hingga usia 18–19 tahun tidak hanya memperkuat diri secara individu, tetapi juga mengurangi beban keluarga dari risiko anak menikah dini atau bekerja dalam kondisi berbahaya; meningkatkan partisipasi anak dalam kehidupan komunitas (karang taruna dan relawan sosial); menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya melalui proyek sosial dan pendidikan peer-to-peer.

Bahkan, wajib belajar 13 tahun akan berdampak jangka panjang pada Generasi Emas 2045 yang siap bersaing. Jika diterapkan mulai sekarang, dampaknya akan terlihat saat Indonesia memasuki puncak bonus demografi dan menuju 100 tahun kemerdekaan. 

Ke depan pun kita dapat melihat generasi muda yang cakap, berdaya saing, dan bermoral. Pun, akan muncul SDM unggul yang bisa mengisi sektor industri, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kreatif. 

Dengan demikian, Indonesia naik kelas dari negara berkembang menuju negara maju.

KAPAN KITA SIAP?

Kategori :