DUA MUSYAWARAH NU berlangsung secara bersamaan. Di Pondok Pesantren Ploso, Kediri, dan di kediaman Gus Dur, Ciganjur, Jakarta. Di Kediri diikuti para kiai sepuh, pengurus wilayah (PW), dan pengurus cabang (PC) dari seluruh Indonesia. Ciganjur diikuti aktivis yang menyebutnya sebagai warga NU.
Namun, dua musyawarah itu bertujuan sama: menyikapi konflik elite NU. Inayah Wahid yang menjadi ketua panitia Mubes Ciganjur menekankan kata elite itu. Sebab, menurut dia, yang berkonflik sekarang bukan warga NU. Namun, para elite di Pengurus Besar NU. Konflik antara rais aam dan ketua umum PBNU.
Lantas, bagaimana hasilnya? Kurang lebih sama: mendorong para elite PBNU islah. Bahkan, temu Lirboyo disertai jalan baru jika cara kultural tersebut mentok. Mandat rais aam dan ketua umum akan ditarik, lalu PWNU dan PCNU menggelar muktamar luar biasa setelah Lebaran mendatang.
BACA JUGA:Mantan Ketua PBNU Tanggapi Hasil Musyawarah Kubro di Lirboyo: Tidak Sesuai AD/ART
Mubes Ciganjur menghasilkan seruan moral. Diawali dengan mendukung penuh hasil Musyawarah Kubro Lirboyo, mereka mendorong pergantian kepemimpinan melalui muktamar dipercepat yang diselenggarakan rais aam dan ketua umum PBNU hasil Muktamar Lampung.
Ada pesan penting untuk mengubah mekanisme pemilihan rais aam dan ketua umum dengan berbasis kearifan para masyayikh dan syaikhat. Juga, bersih politik uang dan intervensi dari pihak luar. Pun, mengutamakan pendekatan spiritual, musyawarah mufakat dan adab ahlu sunnah wal jamaah.
Peristiwa di Lirboyo dan Ciganjur itu menarik. Sebab, mencerminkan arus bawah NU berbeda dengan sikap para elite di PBNU. Satu pihak menggambarkan sikap kultural. Yang lain menggambarkan perbedaan tafsir atas otoritas struktural –organisasi di kalangan elitenya.
BACA JUGA:Tali Jagat NU
BACA JUGA:Kiai Mif vs Gus Yahya di Pusaran Konflik PBNU
Hasil akhir apa pun akan menarik untuk dicermati. Bagaimana NU menghadapi konflik elite tersebut? Apakah mereka bisa menyelesaikannya sendiri atau mengharuskan hadirnya pihak luar? Apakah akan tetap ada benturan antara pendekatan kultural dan struktural dalam kepemimpinan NU?
Ahmad Zainul Hamdi yang karib dipanggil Prof Inung melihat benturan akan terus terjadi jika akarnya tak selesai. Ia menganggap NU sekarang tak lagi bisa diselesaikan dengan hanya cara pesantren. Seperti menganggap institusi miliknya.
Cara pandang itu hanya bisa dilakukan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari. Dengan demikian, beliau menyiapkan qanun asasi (konstitusi dasar).
BACA JUGA:NU Adalah Asosiasi Ulama
BACA JUGA:Suara NU-Gereja