NU Baru

Selasa 23-12-2025,07:33 WIB
Reporter : Arif Afandi*
Editor : Yusuf Ridho

Tampaknya harus diinstal ulang. Semua keputusan yang telah diambil dan menjadikan konflik tak berkesudahan perlu direvisi. Dengan mengembalikan acuan kepada konstitusi organisasi. Tanpa meninggalkan basis kultural yang menempatkan kiai sepuh sebagai penasihat utama.

Dalam tradisi NU, kiai khos memiliki otoritas kultural yang nyaris tak terbantahkan. Namun, otoritas itu bekerja efektif hanya jika konflik masih berada dalam ruang moral dan kultural. Ketika konflik sudah menyentuh distribusi sumber daya material, logikanya berubah.

Pertama, taruhan konflik terlalu besar untuk diselesaikan dengan nasihat moral. Konsesi tambang menyangkut akses ekonomi dan posisi strategis. Aktor-aktor yang terlibat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada legitimasi kultural kiai. Tetapi, pada legitimasi struktural dan legal.

Kedua, NU hari ini makin terformalisasi. AD/ART, struktur kepengurusan, dan prosedur organisasi menjadi bahasa utama. Kiai khos tetap dihormati, tetapi lebih sebagai simbol moral daripada penentu keputusan institusional. Itulah yang oleh sosiolog Pierre Bourdieu disebut sebagai symbolic authority without structural power.

Konflik itu sebetulnya bukan anomali NU. Ia adalah gejala zaman: formalisasi ormas, penetrasi negara ke civil society, dan komodifikasi otoritas agama. Dalam bahasa Karl Polanyi, NU sedang mengalami double movement. Ditarik masuk ke logika pasar dan negara, sambil berusaha mempertahankan proteksi kulturalnya.

Pilihan bagi elite yang berkonflik sekarang apa? Sebab, jika benturan-benturan itu tidak dikelola dengan jernih, yang terancam bukan hanya persatuan internal NU. Namun, juga modal kultural yang selama satu abad membuat NU bertahan dan dipercaya umat. Tambang mungkin sementara. Tetapi, krisis otoritas bisa berdampak jauh lebih lama.

Alangkah bijaknya jika tanggalkan dulu urusan tambang. Saatnya melakukan transformasi kelembagaan karena hadirnya struktur sosial baru dalam NU. Bangun kembali struktur organisasi yang adaptif dalam menghadapi setiap perubahan dengan desain NU baru. NU yang lentur terhadap guncangan luar dengan tetap bertopang pada nilai dasar.

Eh, ada yang tanya, sebagai temannya elite yang berkonflik, kini dukung siapa? Saya lebih suka menjawab seperti Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz): mendukung NU. Mendukung segala cara untuk menyelesaikan masalah secara adil dan menyatukan jamaah. (*)

Kategori :