Ketegangan meningkat setelah mantan presiden Luis Arce, sekutu Morales, ditangkap awal bulan ini atas dugaan penyalahgunaan dana negara yang seharusnya digunakan untuk mendukung komunitas adat.
Di tengah perubahan tersebut, sebagian cholitas khawatir hak-hak yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun akan kembali tergerus.
Perempuan berbusana pollera tampak mengantre saat pemilu Bolivia, Agustus 2025.-Juan Karita-AP
Mereka merasa mulai diabaikan oleh pemerintahan baru yang tidak memiliki satu pun anggota dari kelompok adat.
Kekhawatiran bertambah setelah militer mencopot simbol adat dari logo resminya dan pemerintah menghentikan pengibaran wiphala di istana presiden. “Saya merasa pemerintah tidak akan mempertimbangkan kami,” ujar Alejandro.
BACA JUGA:Ragam Jenis, Tata Cara, dan Filosofi Dupa dalam Tradisi Tionghoa
BACA JUGA:Fungsi dan Makna Jumlah Dupa untuk Sembahyang Menurut Konghucu
“Kami memang membutuhkan perubahan. Ekonomi harus membaik. Tapi menyedihkan melihat tidak ada orang berkuasa yang mengenakan pollera. Bagi saya, itu bentuk diskriminasi,” tambahnya.
Meski demikian, González Maguiña memilih untuk tetap optimistis. Dia menilai perempuan adat Bolivia telah menempuh perjalanan panjang dan membangun kekuatan kolektif yang tidak mudah dipatahkan.
“Kami sudah memiliki kekuatan dan semua yang menyertainya. Kami pasti akan mengetuk pintu pemerintahan baru ini,” katanya.
Bagi perempuan adat Bolivia, pollera adalah sejarah, identitas, dan pernyataan bahwa kemajuan dan tradisi dapat berjalan berdampingan. Bahkan di puncak gunung tertinggi sekalipun. (*)