Wu menyebut, pada kuartal ini saja, harga DRAM jenis RAM paling umum melonjak hingga 50 persen dibanding kuartal sebelumnya. Jika produsen ingin mendapatkan chip lebih cepat, harganya bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat.
Wu memperkirakan harga DRAM masih akan naik sekitar 40 persen pada kuartal berikutnya dan tidak melihat adanya peluang penurunan harga hingga setidaknya sepanjang 2026. Dengan kata lain, tekanan harga diprediksi akan berlangsung dalam jangka menengah.
Masalah ini tidak bisa dilepaskan dari karakteristik teknologi AI itu sendiri. Beban kerja AI sangat bergantung pada memori. "AI workloads dibangun di atas memori," kata Sanchit Vir Gogia, CEO firma penasihat teknologi Greyhound Research.
Menurutnya, sistem pelatihan dan inferensi AI membutuhkan memori besar yang bersifat persisten, bandwidth ekstrem, dan jarak yang sangat dekat dengan unit komputasi.
BACA JUGA:Bocoran Samsung Galaxy A37 dan A57: Sensor Kamera Lebih Besar, Fotografi Naik Kelas
BACA JUGA:Apple Gandeng Samsung Jadi Pemasok Utama RAM iPhone 17, Ini Alasannya!
DRAM yang merupakan produk basic untuk chip memori akan mengalami kenaikan harga yang berimbas pada ongkos produksi berbagai produk elektronik. --vecteezy
"Anda tidak bisa mengurangi kebutuhan ini tanpa merusak performa," ujar Gogia. Ia menegaskan bahwa permintaan memori akibat AI bukanlah fenomena siklus sementara, melainkan perubahan struktural pada industri teknologi.
Di sisi lain, perusahaan teknologi global berlomba membangun pusat data AI bernilai miliaran dolar dalam waktu singkat. Hal ini membuat permintaan memori tidak hanya tinggi, tetapi juga konsisten dan berjangka panjang.
Akibatnya, chip memori kelas atas tersedot ke sektor AI, menyisakan pasokan yang lebih terbatas untuk produk konsumen.
Micron Technology, salah satu produsen RAM terbesar dunia yang berbasis di Idaho, Amerika Serikat, menjadi salah satu pihak yang diuntungkan dari kondisi ini.
Perusahaan tersebut mencatatkan kinerja keuangan di atas ekspektasi pada laporan kuartal terbarunya, didorong oleh lonjakan harga chip memori.
BACA JUGA:Waspada GhostPairing, Modus Penipuan WhatsApp Baru yang Diam-Diam Mengambil Alih Akun
BACA JUGA:Mengenal Macam-Macam AI, Tidak Cuma Gemini atau ChatGPT
CEO Micron, Sanjay Mehrotra, menyatakan optimisme terhadap pasar memori ke depan. Ia menilai pasokan industri secara agregat akan tetap berada jauh di bawah permintaan dalam waktu yang dapat diperkirakan. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tekanan pada harga chip belum akan mereda.
Namun, pergeseran fokus produsen chip ke segmen AI berdampak langsung pada sektor lain. Analis menyebut, semakin banyak lini produksi dialihkan untuk memenuhi permintaan memori berkinerja tinggi bagi AI.