HARIAN DISWAY - “Saudara-Saudara Terkasih, telah meninggal dunia saudara kita Prof. Dr. Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno, S.J. (71 tahun) pada Minggu, 28 Desember 2025, pukul 20.43 WIB di RS Carolus, Jakarta.”
Kabar duka itu Butet Kertaredjasa baca di grup WhatsApp dengan kesedihan mendalam. Seniman yang tinggal di Jogja itu segera ingat pada tahun-tahun awalnya menjadi aktor panggung. Ketika itu, Romo Mudji selalu menyempatkan untuk nonton Teater Gandrik di sela tugasnya sebagai rohaniwan.
“Saya masih berumur 20-an saat mengenal Romo Mudji. Romo ini suka menonton pertunjukan Teater Gandrik, lalu mengulasnya di media. Itu menjadi masukan yang sangat berguna bagi saya yang sedang merintis karier,” ucap Butet kepada Harian Disway lewat sambungan telepon pada Senin pagi, 29 Desember 2025.
Butet yang ketika itu masih seniman anyaran merasa bangga karena aktingnya di panggung dipirsani budayawan senior. “Yang saya suka itu beliau selalu menyelipkan kritik yang membangun dan kata-kata yang membuat kami di Teater Gandrik bersemangat untuk terus berkarya,” ungkap lelaki 64 tahun itu.
BACA JUGA:Butet Kertaradjasa dan Dewa Budjana Apresiasi BRI Jazz Gunung Bromo 2025 yang semakin Variatif
ROMO MUDJI saat membuka pameran tunggal sketsanya "Dari Gereja ke Gereja" di Balai Budaya Jakarta pada September lalu.-Dani Wardhana-Instagram/balaibudaja
Di kemudian hari, Butet dan Romo Mudji kian kerap berinteraksi sebagai sesama seniman. Tahun ini, Romo Mudji mendukung pameran tunggal Butet di LAV Gallery Yogyakarta. Pameran seni bertajuk Eling Sangkan Paraning Dumadi itu berlangsung pada 23 Juni - 22 Juli 2025.
Sebaliknya, Butet pun berkontribusi di balik layar dan secara moral saat Romo Mudji menggelar pameran tunggal di Balai Budaya Jakarta. Pameran sketsa Dari Gereja ke Gereja itu mengukuhkan reputasi pria kelahiran Solo tersebut sebagai seniman.
“Beliau itu ya rohaniwan, ya seniman, ya budayawan. Sangat menginspirasi,” kata Butet.
Saling menghargai dan saling mendukung sebagai sesama seniman membuat hubungan Butet dan Romo Mudji pun terjalin secara personal. “Pas saya pentas (Kanjeng Sepuh, Red.) lalu anfal di panggung itu, kan saya langsung dilarikan ke RS Carolus dan menjalani operasi. Nah, paginya itu Romo Mudji bezoek saya. Nglegakke (menyempatkan diri, Red.) dari Kanisius lho itu,” kisahnya mengenang kejadian 2019 lalu.
BACA JUGA:Butet Kartaredjasa Persembahkan Tari Nusantara Etam untuk Nusantara
Saat itu, kepada Butet, Romo Mudji berpesan agar tetap tenang. “Lakoni wae (jalani saja, Red.). Jangan takut,” katanya mengulang pesan dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara sekaligus pengajar pascasarjana di Universitas Indonesia (UI) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu.
Yang selalu Butet ingat dari Romo Mudji adalah ketenangannya. “Tenang. Sejuk. Membincangkan apa pun dengan beliau itu selalu bikin sejuk. Hal-hal yang keras atau sensitif pun bisa beliau tanggapi dengan logika yang baik dan menenangkan,” bebernya.
Dari sosok Romo Mudji, Butet sadar bahwa ruang pengabdian manusia sangatlah luas. “Seperti Romo Mudji, kita tidak perlu ragu-ragu melompati pagar ruang profesional. Rohaniwan seperti beliau yang biasanya hanya sibuk di ruang-ruang religius pun bisa berkiprah di jagat seni dan budaya sampai akhir hayat,” paparnya.
Maka, berpulangnya Romo Mudji adalah kehilangan besar bagi banyak orang; para rohaniwan, seniman, budayawan, dan masyarakat awam. Namun, Romo Mudji telah menginspirasi lebih banyak kalangan lewat kiprahnya. Swargi langgeng, Romo! (*)